Header Ads

Polda Jatim Usut Oknum Joint dan Orang Sering 'Diperhatikan' Oleh Pembunuh Salim Kancil ?

acehbaru.com - Keberanian dan menjadi sok jagoan para sipil dalam mengelola bisnis ilegal terkadang tak terlepas dari support vitamin berkuasa dibelakangnya. Di era kekinian tanpa 'pengertian' Hariyono, Kepala Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang kepada orang-orang tertentu,  hampir dapat dipastikan bisnisnya tak akan mulus.

Pasca terbunuhnya Salim Kancil dengan tragis, aktivis lingkungan dan anggota DPR RI mendesak Mabes Polri untuk mengusut tuntas siapa saja yang telah di 'perhatikan' oleh Hariyono, Kepala Desa Selok Awar-Awar selama bisnis tambang ilegal itu dijalankan, bahkan banyak kalangan dengan penuh tanya, tentang mungkinkah Salim menjalankan itu sendirian atau ada Saham 'orang lain' yang punya kuasa di kawasan itu?

JPPN melaporkan terkait insiden pembunuhan Salim Kancil aktivis penolak tambang pasir di kawasan itu, kini   Polda Jawa Timur hingga kini masih mendalami keterangan tersangka kasus penganiayaan dan pembunuhan dua aktivis antitambang pasir di Lumajang, Salim Kancil dan Tosan, yang sudah ditahan di Mapolda.

Wakapolda Jatim Brigjen Pol Eddy Hariyanto menuturkan bahwa jumlah tersangka belum bertambah. Polisi masih mendalami keterangan tersangka yang sudah ditahan untuk mengetahui pelaku lain. Termasuk menyelidiki keterlibatan polisi dalam kasus tersebut.

Diduga, ada keterlibatan polisi dari Polsek Pasirian maupun Polres Lumajang dalam kasus yang menewaskan aktivis antitambang, Salim Kancil, serta membuat rekannya, Tosan, kritis dan harus menjalani perawatan di RSUD dr Saiful Anwar, Malang.

Pemeriksaan yang dilakukan Irwasda Polda Jatim itu dilakukan kepada bintara pembina desa (babinsa) Selok Awar Awar, Kapolsek Pasirian, Kapolres Lumajang AKBP Fadly Mundzir Ismail, dan Kasatreskrim Polres AKP Heri Sugianto.

Mereka diperiksa dengan dugaan pembiaran laporan dari para aktivis tentang perusakan lingkungan yang disebabkan penambangan pasir besi ilegal di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar Awar, Pasirian, Lumajang.

"Kami masih menunggu hasil pemeriksaan inspektorat tentang oknum kepolisian Lumajang yang terlibat," kata Eddy seperti dikutip dari Radar Surabaya, Sabtu 3 Oktober 2015

Dia berharap, masyarakat bisa bersabar. Sebab, polisi harus bertindak sesuai dengan bukti dan keterangan saksi.

"Kami tidak bisa main comot. Jadi, kami harus memeriksa dan menyelidiki dulu. Selama ini kami juga sudah terbuka,” terangnya. (i/ JPNN)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.