Header Ads

Asap Tak Kunjung Reda, Halaman Republika Gelap

acehbaru.com - 'Kentut-kentut' para tuan kebun, di kepulauan Riau, Pekanbaru, Jambi, Palembang membuat jutaan manusia menderita, beberapa anak di Sumatera telah berpulang akibat asap yang bersumber dari tanah para pengusaha itu. Jumat, 9 Oktober 2015


Tak heran kondisi yang tak kunjung reda twrsebut membuat crew koran Republika keluar ide sangat ispiratif dimana halaman depan harian Republika dijadikan buram seperti kabut asap.


Nah, tingkah 'aneh' awak redaksi republika ini kemudian menjadi perbincangan di media sosial, Kamis (08/10). Namun, apa maksud di baliknya?


Berita utama dengan judul "Harga Solar Turun" dan sejumlah berita lain di halaman depan menjadi sulit dibaca karena tertutup lapisan abu-abu. Di bawah halaman, satu baris kalimat menjelaskan, "saat tertutup asap, semua berita menjadi sulit dibaca."

Langkah Republika terkait masalah kabut asap diapresiasi oleh pengguna media sosial dan topik ini sempat menjadi salah satu yang terpopuler di Twitter.

"Keren," kata satu pengguna Twitter. Lainnya mengatakan, "protes cerdas". sebagaimana dikutip dilaman BBCIndonesia

"Pesan secara grafis halaman depan Republika hari ini keren banget. Kalau pemerintah masih buta dan tuli kebangeten!" kata @h_elshirazy di Twitter.

Namun ada juga yang mempertanyakan. "Protesnya bagus, tapi yang jadi pertanyaannya yang diprotes itu masih punya perasaan enggak," kata Muhammad Azis Khamdani, melalui Facebook BBC Indonesia.

Lainnya, mengatakan, "simpati dan dukungan memang baik dibarengi dengan tindakan lebih baik."

Bukan bentuk kritik


Pemimpin Redaksi Republika Nasihin Masha kepada BBC Indonesia mengatakan desain halaman depan itu bukan dimaksudkan untuk mengkritik atau memprotes pemerintah, tetapi untuk mengetuk hati semua orang.

"Dalam semua berita (Republika) tidak ada protes, kita hanya mengungkap fakta-fakta saja, karena protes itu tidak mempan juga dalam sistem politik kita selama bertahun-tahun ini," katanya.

"(Kami) Tidak bermaksud mengkritik ke pemerintah, tapi ke semua, karena kami berpendapat publik ambivalen juga dalam masalah kabut asap. Sudah jelas siapa pihak yang membakar hutan, tetapi kita tetap menerima secara sosial produk-produknya, ada kemunafikan pada diri kita."

Nasihin mengatakan surat kabarnya memilih untuk fokus pada pengungkapan fakta sosial terutama terkait kaum-kaum yang rentan terhadap asap karena melihat bahwa persoalan ini telah "bertahun-bertahun terjadi tanpa perubahan."

Lantas apakah ini menunjukan keberpihakan Republika terhadap masalah kabut asap? "Jelas, pers Indonesia sejarahnya panjang sekali selalu berpihak pada kepentingan publik," sambungnya.

Presiden Joko Widodo sudah meminta bantuan Singapura, Rusia, Malaysia, dan Jepang untuk membantu memadamkan api di hutan dan lahan yang menyebabkan kabut asap. (i/BBC Indonesia)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.