Header Ads

Tangani Konflik Satwa Dengan Manusia, BKSDA Aceh Latih Kader Konservasi

acehbaru.com | Langsa – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Konservasi Aceh wilayah I Lhokseumawe membentuk dan melatih kader konservasi dan pecinta Alam untuk kepentingan menjaga kelestarian lingkungan dan konflik satwa yang sering terjadi belakangan ini. Sabtu, 19 September 2015

Dedi Irvansyah kepala Seksi Konservasi wilayah I Lhokseumawe mengatakan tujuan pelaksanaan acara ini untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat yang selama ini daerahnya sering terjadi konflik manuasia dengan satwa liar, seperti dari Jantho, Pidie, Kabupaten Aceh Utara dan kabupaten Aceh Tamiang.

Dengan pelatihan ini para peserta dapat menularkan apa yang sudah didapatkan dalam pelatihan kepada masyarakat di Desa khususnya yang berdampingan dengan hutan, dengan kesadaran masyarakat diharapkan konflik satwa dengan manusia semakin berkurang.

Pelatihan kader Konservasi wilayah 1 Lhokseumawe“Dalam beberapa tahun ini sering terjadi konflik satwa dengan manusia yaitu di Aceh Timur, belum lama ini ada dua ekor gajah betina mati di areal PT Bumi Flora, dan kini sedang proses Visum di labfor Jakarta,”Ujar Dedi Irvansyah, SP.

Selain kasus terbaru, sebelumnya sepasang gajah juga ditemukan mati dikawasan Aceh Timur dan pelakunya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

Dedi menambahkan banyaknya konflik Gajah dengan manusia dikawasan ini, karena daerah tempat Gajah telah beralih fungsi menjadi perkebunan dan pemukiman, sehingga home ring dia terjepit. Disamping itu memang masih ada hutan yang menjadi tempat areal Gajah, tetapi itupun telah terganggu dengan ilegal logging.

“Gajah itu tidak suka dengan suara sinsaw, dengan kebisingan itu dia turun dan ketemu kebun sawit, pisang dan itu makanannya mereka,” Tambah Dedi

Untuk langkah antisipasi katanya, untuk kabupaten Aceh Timur beberapa waktu lalu BKSDA Aceh telah tercapai kesepakatan dengan pemerintah Aceh Timur untuk membentuk CRU (Conservation Response Unit) seluas 5500 hektar, dan nantinya pihak BKSDA akan menempatkan gajah jinak dilokasi tersebut.

“CRU sebenarnya bukan satu satunya jalan keluar untuk menangani konflik satwa dengan manusia, tetapi ini salah satu cara jangka pendek, sementara jangka panjang tetap harus direlokasi dan penataan tanaman dan tumbuhan di areal yang sering terjadinya konflik gajah dan manusia,” Katanya. (ira)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.