Header Ads

Korban Selamat Boat TKI di Sabak Bernam Diberi Ampunan

acehbaru.com | Kuala Lumpur - Sebanyak  19 dari 20 korban selamat tragedi kapal tenggelam di Sabak Bernam,  Malaysia mendapat pengampunan atau amnesti dari Pemerintah Malaysia. Namun, satu orang lagi didakwa sebagai tersangka tekong atau pemilik kapal.

“Dari 19 orang yang diberi amnesti, 17 orang akan  dipulangkan hari Senin, 21 September dengan GA 821 ETD 12.50 ETA 13.55 tujuan Jakarta. Mereka akan diserahterimakan ke Kementerian Luar Negeri,” kata Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Herman Prayitno, lewat pesan singkat kepada Tempo, Jumat malam.

Dari Kementerian Luar Negeri, mereka akan diserahkan kepada  Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).  “Pemulangan ke  kampung halaman masing-masing oleh BNP2TKI,” tambah Dubes Herman.

Sedangkan dua orang lagi yang mendapat amnesti masih diperlukan keterangannya sebagai saksi di pengadilan, yang dijadwalkan akan berlangsung 2 Oktober 2015 mendatang.

Perahu yang mengangkut  puluhan WNI sepanjang 12 meter tenggelam di Sabak Bernam, lepas pantai 16,2 kilometer dari Tanjung Sauh, Kamis, 3 September 2015 lalu sekitar pukul 02.20 waktu setempat. Kapal berangkat dari Kuala Sungai Bernam di tengah malam menuju Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Dalam tragedi itu, 64 orang tewas, terdiri atas 39 laki-laki dan 25 perempuan. Jenazah yang telah teridentifikasi  58 jenazah,  36 laki-laki dan 22 perempuan.  “Sudah dihantar ke keluarga 57 jenazah,  satu  jenazah akan dihantar tanggal 19 September,” kata Dubes Herman.

Berdasarkan daerah asal,  27 korban berasal dari Aceh, 14 Sumatera Utara, 12 Jawa Timur, dua Jawa Tengah, Banten,  serta Lampung dan Sumatera Barat masing-masing satu orang.  Hingga kini, masih enam jenazah belum teridentifikasi dan terus diupayakan oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) gabungan Indonesia-Malaysia.

Menurut undang-undang pidana Malaysia, tekong atau pemilik kapal dapat dikenai  Pasal 26 J Undang-undang Anti Penyelundupan Manusia dan Migran 2007. Jika terbukti bersalah ancaman hukuman bisa mencapai maksimal lima tahun penjara dan denda maksimal 250 ribu ringgit (sekitar Rp 820 juta). (Tempo.co)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.