Header Ads

Aswaja 'Goyang' Zaini Abdullah, Muzakkir Manaf Jadi Pahlawan

acehbaru.com | Banda Aceh - Pada aksi parade akbar yang bakal digelar massa Ahlussunnah Waljama'ah mazhab Syafi'I beritiqad Asy'ariyah Wal Maturidiyah, besok, Kamis, 1 Oktober 2015, Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf dijadwalkan bakal jadi 'pahlawan' karena menandatangani petisi tuntutan massa pada aksi sebelumnya, 10 September 2015, lalu.

Informasi yang dihimpun acehbaru.com menyebutkan Mualem diagendakan akan berpidato padak aksi unjuk rasa itu, serta menandatangani tuntutan aswaja. (Baca: Besok, Massa Aswaja ‘Gugat’ Zaini Abdullah )

Dalam sebuah ceramah bertema "Bahaya Aliran Sesat " yang digelar FPI ACEH BESAR, Senin 28 September 2015 sekira pkl 21.00 WIB di Mesjid Alfaizin Gampong Lampeuneurut Kecamatan Darul Imarah, Banda Aceh, Tgk. Muslim At - Thahiri mengatakan 1 oktober 2015, kita ke Wagub untuk meminta tanda tangan dan apabila larangan tersebut tidak dilaksanakan oleh Polri dan TNI, maka aswaja akan turun langsung kelapangan untuk membubarkan Salafi.

Sekjen HUDA Tgk. Bulqaini Tanjungan dalam dakwah itu juga menyerukan agar warga hadir pada 1 Oktober 2015 ke Makam Syiah Kuala dengan agenda aksi damai dan berdoa bersama.

"Jangan pilih lagi Bupati & Gubernur kedepan, karena tidak menanda tangani kesepakatan tentang pembubaran aliran sesat" Katanya.

Seperti yang dilansir portalsatu, Alumni Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah, Kabupaten Bireuen, Teungku Muhammad Nur, mengatakan parade Aswaja susulan pada 1 Oktober 2015 merupakan sebuah gerakan moral bukan gerakan politik, yang bekerja untuk meluruskan iktikad ahlussunnah wal jamaah sesuai dengan tuntunan Alquran dan Al hadis, Ijma dan Kias.

“Parade ini harus dilakukan terus hingga tumbangnya kezaliman dan tegaknya sebuah kebenaran yang menggambarkan keseluruhan peradaban Islam di Aceh,” kata Teungku Muhammad Nur, di salah satu Warkop di Banda Aceh, Rabu 30 September 2015.

Katanya, Aceh membutuhkan pemimpin yang melaksanakan syariat, bukan menghancurkan hampir semua tatanan kehidupan masyarakat.

“Kita harus turunkan siapa pun, tak terkecuali gubernur kalau tidak mendukung tegaknya syariat Islam kaffah di Aceh,” katanya.

“Jangan salahkan ulama kalau harus turunkan gubernur yang tidak pro syariat. Tuntutan parade pertama ada sejumlah poin yang harus dicapai, tapi tak satupun dijalankan, makanya ada parade susulan,” ujarnya lagi.

Katanya, perjuangan yang dilakukan ulama dayah ini telah dilakukan puluhan tahun. “Itu demi agama dan kebenaran bukan demi pangkat dan jabatan. Tanpa peunutoh ulama tidak ada yang mau melakukan perjuangan dan jangan sampai hari ini.

Alquran, Alhadis, ijma dan kias yang merupakan keyakinan yang sudah mendarah daging bagi ulama mau ditinggalkan dan kita harapkan tidak ada Islam gaya baru yang mengurangi sunnah Rasulullah SAW di Aceh,” kata Teungku Muhammad Nur.

| ISB/Potalsatu |

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.