Header Ads

Ada Dugaan Korupsi CSR Pertamina? Bagaimana CRS BUMN Lain?

acehbaru.com - Penggeledahan yang dilakukan di kantor Pertamina Foundation oleh polisi terkait dengan dugaan korupsi proyek CSR Pertamina salah satunya 'Gerakan Menanam 1.000 Pohon', menimbulkan dugaan adanya hal yang sama mungkin terjadi di BUMN lainnya, tak cuma yang berdomisili di Jakarta, tapi juga di Aceh.

"Terkait proyek gerakan menabung atau menanam pohon, sekolah sobat bumi, beasiswa sobat bumi, dan sekolah sepakbola Pertamina," jelas Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Victor Edison Simanjuntak di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa 1 September 2015.

Menurut Victor, taksiran kerugian negara dalam kasus ini diperkirakan mencapai Rp126 miliar di mana anggaran itu masuk dalam tahun anggaran 2012-2014 sebesar Rp256 miliar. Victor juga menampik banyaknya pendapat yang mengatakan dana CSR tak merugikan negara.

"Ada yang berpendapat bahwa, bertanya apakah CSR merugikan kerugian negara, jangan lupa bahwa lapkeu (laporan keuangan) pemerintah pusat, CSR itu masuk di situ, CSR adalah keuangan negara yang dipisahkan, kerugian kurang lebih Rp126 miliar dari tahun 2012-2014, total sebenarnya Rp256 miliar proyeknya," jelas Victor.

Victor mengungkapkan, sampai saat ini penggeledahan masih berlangsung. Penyidik menggeledah empat ruangan di kantor Pertamina Foundation di Jalan Sinabung, Simprug, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

"Ruangan bendahara, ruangan direktur, ruang pendataan dan perencanaan. Itu digeledah ada empat lokasi. Sementara ini kita sudah memperoleh beberapa dokumen," tutur Victor.

Diduga kasus ini menyeret nama Direktur Eksekutif Pertamina Foundation, Nina Nurlina Pramono yang juga merupakan peserta capim KPK yang gagal lolos ke fase berikutnya. Namun, saat disinggung apakah penggeledahan itu terkait kasus ini, Victor enggan menjawab hal tersebut. "Yang begini-begini saya tidak mau jawab. Jangan dipolitisir saya tidak pernah menyidik capim KPK," tegas Victor.

Untuk diketahui, adanya dugaan pelanggaran administrasi dan anggaran itu diungkapkan oleh Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK, Destry Damayanti saat menanyakan seorang capim KPK Nina Nurlina Pramono yang merupakan Direktur Eksekustif Pertamina Foundation.

Sebelumnya Kabareskrim Komjen Budi Waseso menyebut pihaknya telah menetapkan seorang capim KPK menjadi tersangka. Namun, sampai saat ini Bareskrim belum mengumumkan secara resmi identitas capim KPK yang dijadikan tersangka itu. (Oke Zone)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.