Header Ads

Tak Usah Berharap Banyak Pada Kabinet Baru

Tim ekonomi kabinet baru hasil perombakan pantas diharapkan melakukan perubahan, namun tidak bisa diharapkan membuat terobosan, kata pengamat.

Pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih mengatakan, para menteri baru di bidang ekonomi khususnya Darmin Nasution sebagai Menko Perekonomian dan Thomas Lembong sebagai Menteri Perdagangan memang dipandang kompeten dan kredibel. Namun karena "tidak ada perubahan secara struktural terkait sistem birokrasi dan prosedur (di kementerian-kementerian), kita harus realistis saja," kata ekonom Samuel Aset Manajemen itu.

Menurutnya, para menteri baru itu perlu menunjukkan kinerjanya secara cepat di tengah persoalan ekonomi Indonesia yang begitu rumit, namun tidak usah dibuat tergesa-gesa.

"Mereka tak akan bisa langsung bekerja cepat menyelesaikan segala persoalan. Mereka pasti butuh waktu penyesuaian, paling cepat tiga bulan kita bisa melihat kinerjanya, bahkan bisa enam bulan," tambahnya pula.

Presiden Jokowi mengumumkan perombakan kabinet Rabu (12/8) siang di Istana Merdeka, dan langsung melantik enam menteri baru: Luhut Pandjaitan (Menko Polhukam), Darmin Nasution (Menko Perekonomian) Sofyan Djalil (Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas) Rizal Ramli (Menko Kemaritiman), Thomas Lembong (Menteri Perdagangan) dan Pramono Anung (Sekretaris Kabinet).

Menteri Sekretaris Negara Praktino menyatakan, "perombakan kabinet ini dimaksudkan membuat pemerintahan bisa berjalan semakin efektif, untuk mempercepat realisasi program-program prioritas demi meningkatkan kesejahteraan rakyat."

Banyak pergunjingan mengenai pertarungan kekuatan politik dalam perombakan kabinet ini. Khususnya tergusurnya Sekretaris Kabinet Andy Wijayanto digantikan Pramono Anung, politikus kawakan PDIP, partai yang selama ini gencar menyerukan pemecatannya.

Namun perhatian memang banyak tersorot ke bidang ekonomi. Menko Perekonomian yang baru diangkat, Darmin Nasution, menyadari benar masalahnya. Kendati ia mengatakan perlu waktu untuk menyusun program, namun ia memapar sejumlah prioritasnya.

"Prioritas pertama adalah membereskan persoalan pangan. Di dalamnya ada kerumitan terkait fluktuasi harga daging, beras, gula, garam, macam-macam," katanya.

Senada dengan Lana Soelistianingsih, ia menyebutkan bahwa masalah ini tak bisa diselesaikan tergesa-gesa dalam waktu yang terlalu cepat.

"Yang kedua, soal fiskal, APBN. Hubungannya banyak, bahkan dengan urusan pangan juga. Nanti kita lihat di APBN, anggarannya seperti apa, apa yang bisa kita lakukan.

"Yang ketiga, investasi. Menyangkut juga soal minimnya modal masuk. Kita ini sekarang agak kekurangan capital inflow, ini yang membuat kurs rupiah kurang bagus. Bagaimana caranya? Bisa investasi penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri, bisa juga pemerintah, atau swasta, menerbitkan surat utang.

"Itu tiga area yang sangat krusial untuk dikerjakan. Sekarang kita sedang perlu-perlunya."

Satu hal yang tak mengenakkan, justru saat perombakan kabinet diumumkan, nilai rupiah turun hingga melampaui Rp13.800 per US$1 dan indeks saham turun 3%.

Apakah ini tanda ketidakpercayaan pasar?

"Mungkin ada faktor itu, tapi saya kira faktor penentu yang paling kuat adalah devaluasi nilai Yuan -mata uang Cina," sebut ekonom Lana Soelistianingsih.

Betapapun kata, Menko Perekonomian Darmin Nasution, salah satu tugasnya memang adalah memulihkan kepercayaan pasar.

Untuk itu, katanya, "yang pertama harus dilakukan adalah perbaikan dalam akurasi: akurasi data, akurasi kebijakan."

"Makin akurat, apalagi kalau pada tataran kebijakan itu sudah dikoordinasikan dengan berbagai instansi, maka orang pasti lebih percaya."

Darmin mengatakan terkait perekonomian ini, jika berbagai lembaga memiliki data berbeda-beda, dan kesimpulan diambil secara terburu-buru, maka "kesimpulannya bisa salah dan kebijakan yang dibuat bisa salah pula."

Darmin menolak untuk menjelaskan apakah kesemrawutan data merupakan permasalahan lembaga-lembaga pemerintah sekarang.

Tak urung ia menyebutkan, "Jangan sampai sekarang ngomong lain, besok lain. Sekarang bicara impor dihentikan, besok impor dibuka."

"Jadi perlu ada kalibrasi data dari berbagai sumber. Sehingga diperoleh data yang paling akurat. Sesudah itu bisa diharap kualitas kebijakan yang baik, yang ditentukan oleh koordinasi yang baik."

Di lain pihak, pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih menyebut, para menteri ekonomi yang baru tidak usah berambisi membuat terobosan ekonomi untuk tahun 2015 yang tersisa empat bulan ini.

"Untuk ekonomi tahun ini, fokus saja pada yang sudah direncanakan pemerintah sebelumnya. Yang penting, fokus saja menyiapkan fondasi ekonomi untuk tahun 2016 mendatang. Disiapkan proyek-proyeknya, dari sekarang, sehingga tinggal dijalankan."

Istilahnya, kata Lana Soelistianingsih pula, yang harus dilakukan oleh tim ekonomi pemerintah sesudah perombakan kabinet ini, "jangan beli ekonomi tahun 2015, belilah ekonomi tahun 2016."

| BBC |

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.