Header Ads

Perjuangan Kelompok Din Minimi, Klaim Kriminal, dan Kematian di Hari Mulia

JUM’AT 10 Oktober 2014. Beberapa mantan anggota GAM berkumpul dengan senjata ditangan mereka duduk bersila disebuah gubuk. Kelompok yang dipimpin Nurdin Ismail Alias Din Minimi itu memiliki hajad untuk menyampaikan tuntutan kepada pemerintah Aceh Untuk memenuhi janjinya kampanyenya kepada masyarakat Aceh.

“Kamoe akan melawan pemerintah Aceh sampoe darah kamoe abeh. Tapi bila pemerintah geupeunuhi yang kamoe lakee, kamoe pih siap kembali, dan senjata kamoe jok keu yang berhak atawa Polisi (Kami akan melawan pemerintah Aceh sampai tetes darah terakhir. Namun bila tuntutan kami dikabulkan, kami siap kembali ke masyarakat dan senjata akan kami serahkan Polisi),” Kata Din Minimi saat itu

Itulah sepenggal kata yang di ucapkan Din Minimi dihadapan wartawan yang di undang ketempat persembunyiannya. Usai mengeluarkan maklumat itu esoknya berbagai media merilis tuntutan Din Minimi. Din Minimi menyatakan sudah siap demi kesejahteraan untuk Rakyat aceh yang dianggap selama ini, kesejahrteraan masih milik beberapa orang yang berkuasa di Aceh dan dalam kalangan mantan GAM

Deklarasi Din Minimi menjadi preseden buruk dalam perdamaian Aceh. Di Kala damai Aceh di puji namun rakyat masiih hidup dalam kondisi penuh kemalaratan. Deklarasi yang dilakukan Din Minimi dengan senjata membuat masyarakat dan mantan combatan yang telah lama menjerit, mengeluh dan menyampaikan, tapi tak ada tanggapan positif dari pemerintah namun yang diterima adalah kemeelaratan yang diterima bukanlah kesalahan dari pemimpin mereka namun kesalahan Jakarta yang belum mengesahkan turunan UUPA.

Satu kali, dua kali mantan combatan, korban konflik itu percaya, namun beriring berjalan waktu, masyarakat, korban konflik dan sebagian besar mantan combatan GAM menjadi sadar, alasan itu hanya sebagai jurus elak. Sementara faktanya mereka, belum selesai turunan UUPA pun bisa sejahtera.

Suara yang didengungkan Din terwakili apa yang sedang dialami oleh masyarakat Aceh, tak heran sebuah harapan seakan ada di pundak anak dari Pak Ismail yang juga mantan pejuang Aceh Merdeka yang hingga kini hilang dan tak diketahui dimana kuburnya. Walaupun ada berbagai kecurigaan, misalkan kelompok Din ada yang kelola si ini dan kelompok itu. Namun pikiran itu terlintas begitu saja, dan tertutupi dengan kekecewaan yang ‘dipelihara’ pemerintah Aceh terhadap mereka.

Akhirnya gerakan Din Minimi menjadi sebuah doa bagi mereka yang masih merasa kemencretan dengan kondisi ini. Dan menjadi cacian bagi kelompok yang sudah ‘menang dan kenyang’ dalam kondisi sekarang.

Gerakan Din Minimi dengan anggota yang sedikit dan tidak dianggarkan uang operasi dalam APBD atau APBA tentu jelas sulit dalam operasinya. Ditambah lagi dengan Sikap pasangan Gubernur Zaini Abdullah- Muzakkir Manaf yang ‘kurang’ mengganggap bahwa itu bangsa Aceh, dan mereka adalah para pejuang di garis depan pertempuran yang membuat GAM begitu megah dan kuat, hingga kemudian proses damai berlangsung, hingga mereka berada di kursi Gubernur. BACA; INI RENTETAN INSIDEN KELOMPOK DIN MINIMI.

Malasnya para mantan Petinggi GAM mengurus masalah ruwet dikala menjadi pemimpin yang sah,aman dan sebagainya, menjai tanda tanya tersendiri. Terkesan mereka tidak mau terganggu dengan proses kekuasaan yang sedang dimiliki dan tengah dinikmati dengan syurr, dan tak mau terganggu.

Sang kawan yang tertinggal di pelosok desa tertatih –tatih melewati hidup, terlupakan dengan banyaknya kawan baru sebagai mitra yang lebih nyaman dan tidak bermasalah. Pemerintah Aceh mengeluarkan statemen kelompok Kriminal tugasnya polisi, kata Gubernur di Pendopo Bupati Agara, Senin 13/10/2014

Din Minimi dianggap sebagai kelompok criminal. Gubernur terkesan malas memikirkan masalah itu, dan dianggap lepas, dikala. “Kita ada Polda Aceh dan Kodam IM. Jadi, kalau ada yang mengganggu perdamaian di Aceh itu tugas polisi dan TNI. Kita serahkan saja persoalan itu kepada aparat penegak hukum,” ujar Gubernur Aceh, Zaini Abdullah.

Sepertinya wartawan Serambi yang mewawancarai ini belum siap menerima jawaban Gubernur soal tuntutan kesenjangan sosial ini. Lalu, rekonsiliasi antar-sesama eks kombatan GAM di Aceh agar konflik internal GAM dan kelompok anti-perdamaian tidak ada lagi, Zaini Abdullah mengatakan, tidak perlu.

“Saya rasa tidak perlu, kita menyerahkan persoalan ini sepenuhnya kepada penegak hukum karena ini ranah hukum dan kita memiliki polisi dan TNI,” tandasnya. Perdamaian di Aceh, lanjut Gubernur Zaini harus tetap berlanjut dan dipelihara.

Waktu berjalan, kemudian Din Minimi diklaim terlibat dalam serangkaian penculikan di Aceh Timur, dan Aceh Utara. Lebel jahat terhadap Din Minimi mulai berlangsung. Dan titik nadirnya terjadi pada 23 Maret 2015 Di Nisam Antara, dua anggota TNI di culik, dan esoknya ditemukan tewas. Din Minimi kembali tersangkut, dia di klaim pelakunya. Dengan kejadian itu kegawatan Din Minimi semakin meluas.

Din Minimi di Buru kontak tembak,satu persatu anggotanya tewas, ibu, adik, istri dan anak mereka kehilangan orang tua. Dan kasus yang terbaru, penembakan terhadap Junaidi alias Brujuek (30) warga Sidomuliyo Kecamatan Nisam Antara di SPBU Batuphat Lhokseumawe.

Ganasnya cerita Junaidi alias Brujuk yang ditembak tanpa sedang bawa senjata melahirkan berbagai tanggapan dari masyarakat dan lembaga sosial, DPR da DPD. Kejadian itu juga menimbulkan berbagai pemikiran, analisa, dan sejumlah lainnya.

Hingga ada yang meriviw model eksekusi yang dilakukan polisi menunjukkan sebuah kengerian dan teringat kembali itu sama model dengan masa konflik saat situasi hukum berlaku situasi perang. Pengamat pun mengkritik pendekatan keamanan yang dilakukan polisi.

Masyarakat yang mendengar cerita kematian Brujuk yang begitu Ganas,juga tidak setuju. Penolakan terhadap apa yang sedang ditonton oleh masyarakat atas sebuah kebijakan polisi atas persetujuan Pemerintah Aceh.

Rasa prihatin terhadap kondisi menjadikan isu Din Minimi mendapat perhatian yang luas dari masyarakat, bahkan sedang menguji keihlasan kelompok Din dalam menyuarakan keluhan masyarakat ramai. Tak heran kemudian saking simpatik, sampai-sampai keseringan meninggalnya anggota Din Minimi pada hari Kamis menjadikan suatu telaah yang rasa ingintahuan makna dari masyarakat. Karena dalam kehidupan muslim, ada hari diantara dalam seminggu, ada hari yang di idamkan menjadi hari terakhir dia sebagai manusia dialam dunia.

Karena hari itu memiliki makna dan kelebihan saat menghadapi alam kubur. Maka tak heran bila seseorang meninggal pada hari itu, kalangan ummad muslim pasti berfikir yang meninggal itu adalah orang yang direstui, dan menunjukkan suatu kemuliaan di hari kematiannya.

Beberapa kali kejadian, 5 anggota mereka meregang nyawa di hari Kamis. Terbaru, Kamis 27 Agustus 2015 adalah Brujuek yang di eksekusi polisi di areal SPBU Batuphat.

"Barang siapa yang meninggal di antara Dhuhur hari Kamis hingga hari Jumat maka ia akan terjaga dari azab kubur." Demikian diriwayatkan Imam Shadiq As

Disisi agama kamatian di antara hari Kamis apalagi setelah siang memiliki keutamaan dan kemuliaan tersendiri, seorang Mukmin meninggal pada waktu ini disebabkan oleh keberkahan dan kemuliaan dan ia akan mendapatkan dispensasi dari sebagian kesulitan dan peristiwa alam kubur dan barzakh.

Itukah yang terjadi dengan anggota Din Minimi?..(irv/tfk)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.