Header Ads

Ini Surat Dari Anak Korban DOM Untuk Pak DPR dan Pemerintah Aceh

Moment : 07 Agustus 1998 Pencabutan DOM Aceh
Perihal : Surat terbuka untuk Pemerintah Aceh (Eksekutif – Legislatif)

Assalamualaikum wr wb
Saleuem Horeumat keu ureung chik kamoe di meuligoe.
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa pada tahun 1989 Pemerintah Indonesia menetapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM), yang tujuannya adalah menumpas pemberontak yang dilabelkan sebagai GPK.

Pada tanggal 07 Agustus 1998, melalui Wiranto Pemerintah mencabut status DOM di aceh dengan resmi, hari ini tepat 17 tahun (07 Agustus 2015) pasca pencabutan DOM, tapi kenapa kondisi kami sebagai korban masih seperti tidak diperhatikan.

Pasca penandatanganan MoU Helsinki, GAM dan Pemerintah RI sepakat untuk berdamai dengan mencantumkan tulisan yang sangat banyak dalam naskah MoU Helsinki, salah satunya adalah terkait persoalan pemenuhan hak-hak korban kejahatan masa lalu dalam konteks HAM, Pemenuhan hak atas keadilan dan hukum, dan juga hak lainnya sebagaimana diatur dalam kovenan internasional (DUHAM) dan UU nomor 39 tahun 1999 tentang HAM, juga sebagaimana yang tercantum dalam PP No. 3 Tahun 2002 tentang Kompensasi, Restitusi dan Rehabilitasi Terhadap Korban Pelanggaran HAM Yang Berat.
Ureung Chik Kamoe yang mulia.

Sebagian besar penguasa parlemen Aceh (eksekutif-legislatif) berasal dari kalangan GAM, yang sudah paham akan isi MoU Helsinki, namun kenapa para korban harus bermimpi untuk mendapatkan keadilan (tidak pernah nyata).

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) sebagaimana amanah dari MoU Helsinki sudah lahir dalam bentuk Qanun, berkat kerja keras para korban dan aktifis HAM baik dari Aceh maupun luar Aceh, tetapi kok masih belum terbentuk Komisi penyelenggaranya, apakah masih takut dengan pemerintah pusat, atau tidak ada untungnya bagi kalian? Jadi bisa kalian olah sedemikian rupa?

Kami para korban, tidak paham dengan cooling down lah, ini itu lah, yang kamu tahu, itu tanggung jawab anda sebagai representatif/wakil rakyat Aceh terutama korban. Droe Neuh bek gadoeh tiek andoek watee korban surak-surak hak. ( Anda asik lepas tangan/mengelak/cari alasan, waktu korban tuntut HAK)

Proses pemenuhan hak para korban harus berdasarkan pengungkapan kebenaran, mengadili pelaku, negara meminta maaf dan lain sebagainya, namun kenapa para pelaku semakin berjaya dan menjadi tokoh penting dalam pengambilan kebijakan negara.

Sedikit cerita, saya adalah anak dari pasangan Abdurrahman dan Maryani, saya lahir 1988 di Kec Simpang Keuramat Aceh Utara, pada tahun 1990 ayah saya “diambil” oleh belasan orang yang berbaju loreng dan berbaret merah, ayah saya dibawa paksa tanpa diberikan inforamsi kemana dan tujuannya apa dibawa.

Selang beberapa hari kemudian, salah seorang warga datang ke rumah saya dan mengatakan bahwa ayah saya di tembak dan dibakar oleh tentara dan dikuburkan oleh warga setempat, dengan kondisi saat itu keluarga saya takut untuk mengambil jenazah ayah saya, sehingga sampai saat ini tidak ada yang tahu dimana kuburan ayah saya yang sebenarnya.

Sebulan setelah kejadian, ada informasi bahwa ayah saya dibunuh karena ketahuan membawa beras dan sembako untuk Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) dan terlibat GPK, padahal ayah saya yang bekerja sebagai mandor di kebun karet (PTP pedalaman Simpang Keuramat) memang setiap hari Kamis membawa bekal beras dan sembako lain untuk pekerja di kebun....tapi kemudian dia dituduh terlibat GPK adalah logika pengecut.

Bertahun-tahun ibu saya yang tidak punya keahlian apapun menghidupi kami berlima. Kesedihan dan penderitaan kami bertambah, dikala abang kami yang pertama bernama Mahyuddin harus meninggal tragis usai Maggrib pada musim pemilu legislative akhir tahun 2003. Ia dibunuh oleh Kelompok orang bersenjata, penyebab pembunuhan itu karena mencalonkan diri sebagai anggota dewan aceh utara dari Partai PDK).

Almarhum sempat kuliah di IAIN Ar-Raniri Banda Aceh tetapi tidak selesai karena tidak punya biaya. Anak kedua Fadliati yang hanya tamat SD, terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu ibu untuk merawat dan menjaga saya yang masih bayi. Sedangkan ibu saya menjadi buruh tani.

Selanjutnya M Azhar juga putus sekolah hanya tamatan SMP, Suryadi yang anak ke empat hanya tamatan SMK, dan saya yang bungsu berusaha dengan ketekunan melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Univ Malikussaleh.

Dengan penghasilan ibu saya Rp. 20 ribu sehari, saya nekat untuk kuliah hingga saat ini dan Alhamdulillah syukur kepada Allah saya bekerja di salah satu NGO di Jakarta...

Ibu,,Engkaulah Malaikat bagi kami anakmu.

Saya sebagai anak bungsu adalah satu-satunya yang tidak mengenal wajah dan fisik ayah saya, saya sangat merindukan sosok ayah, sampai dewasa saya masih ingin merayakan hari raya bersama ayah…….Kenapa mereka merebut kebahagiaan kami?

Apa salah ayah kami, pernahkah mereka merasakan bagaimana sakitnya hati kehilangan ayah dengan cara diculik dan dibunuh, bagaimana kalau anak-anak mereka merasakan seperti yang kami rasakan?
Bagaimana perasaan anak-anak mereka apabila saya sebagai pembunuh ayahnya, sakit bukan ? saya rasa, hanya orang bodoh yang akan diam dan pasrah saat disakiti, pasti kesedihan dan kemarahan akan selalu datang …… .

Ureung chik kamoe yang mulia.
Melalui surat ini, walaupun kalian anggap sampah, ingin saya tegaskan, kami sebagai korban sudah mulai lelah dan jenuh menunggu keadilan, bagaikan cacing yang akan melubangi batu, hanya persoalan waktu pasti batu tersebut berlubang oleh cacing yang lembek.

Dengan sangat sadar saya menulis surat ini, dengan hati yang kecewa dan sakit saya bercerita, semoga tulisan ini dengan cepat dibuang oleh asisten/pembantu anda.

Jangan khawatir, saya sangat paham akan resiko terhadap tulisan ini.

Akan tiba saatnya saya katakan kepada kalian, genderang perang akan kembali ditabuh, bukan dengan senjata, tetapi dengan taktik dan doa para korban (janda dan anak yatim), saya masih yakin, pintu pengadilan HAM Internasional masih terbuka untuk kami para korban pelanggaran HAM Aceh, jangan salahkan kami saat mencari cara sendiri untuk merebut keadilan itu.

"Nobody can give you freedom. Nobody can give you equality or justice or anything. If you’re a man, you take it."

Wassalamualaikum wr wb

Saleum Adee

Afrizal
Penulis adalah anak dari Abdurrahman korban Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh Priode 1989-1998

Tembusan :
1. KontraS Jakarta
2. Kontras Aceh
3. Komnas HAM Jakarta
4. Media

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.