Header Ads

Eks Pendemo dan Tukang Dikpol Aceh Berkumpul Malam Ini Di Banda Aceh

acehbaru.com | Banda Aceh— Ratusan Eks pendemo, konseptor, tukang dikpol, penyumbang kertas, penyumbang spanduk, koordinator, massa, serta pendamping pengungsi Idps dari lintas generasi berkumpul malam ini di Banda Aceh. Mereka bertemu untuk melihat kondisi Aceh kekinian setelah 10 tahun konflik priode itu berlalu.

Reuni para Kamerad, Kanda, dan Dinda serta kawan-kawan tersebut diinisiasi oleh Iqbal Farabi (mantan Ketua Komnas HAM Aceh), Muhammad MTA (eks tahanan politik), Arie Maulana (Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat), Teuku Banta Syahrizal (Sentral Informasi Referendum Aceh), dan sejumlah aktivis lainnya.

Dalam laman acehkita.com (media sindikasi acehbaru.com) mantan kordinator Kontras Aceh di era Darurat Militer 2003 yang bertindak sebagai Juru Bicara Aktivis Aceh Iqbal Farabi menyebutkan, pertemuan ini akan dihadiri para aktivis mulai angkatan pergerakan 60-an, 70-an, 80-an, 1998, 2000, hingga yang masih aktif dalam pergerakan mahasiswa saat ini.

Para inisiator telah menyebarkan lebih 500 undangan kepada aktivis yang berada di Banda Aceh, Aceh, hingga di provinsi lain.

Menurut Iqbal Farabi, para tokoh yang sudah menyatakan kehadirannya adalah Prof Yusni Sabi, Ahmad Humam Hamid, Mahyuddin Adan, Teungku Imam Syuja’, dan beberapa lainnya. Inisiator juga mengundang para tokoh politik, unsur pejabat, dan aparat keamanan.

Menyeruak anggapan bahwa pertemuan itu digelar untuk menyambut pemilihan kepala daerah 2017 nanti. Namun Iqbal memastikan bahwa reuni aktivis ini hanya untuk membicarakan dan mencari solusi atas pelbagai isu yang tengah terjadi di Aceh.

“Agenda kita ini tidak terkait dengan kepentingan politik golongan tertentu,” kata Iqbal Farabi kepada wartawan di The Hobbies Cafe, Jumat lalu.

Pertemuan ini, kata Iqbal, murni hanya ajang reuni atau silaturahmi setelah 18 tahun tak bertemu. “Pertemuan ini juga karena kita resah. Para inisiator dan tokoh-tokoh senior kita juga mengalami keresahan yang sama dengan kita,” ujarnya.

Keresahan itu, menurut Iqbal, terkait dengan lambatnya proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi, pengelolaan pemerintahan yang tidak fokus, kesejahteraan rakyat yang masih minim, dan persoalan pascakonflik seperti masalah reintegrasi dan korban konflik.

“Kita resah dengan perkembangan Aceh yang seperti jalan di tempat,” ujar Iqbal Farabi. “Pemerintahan tidak fokus, tidak memiliki agenda dan konsep yang jelas.”

Meski menilai ada permasalahan dalam tata kelola pemerintahan, Iqbal menjamin bahwa pertemuan itu tidak akan memberikan penilaian atau rapor kepada pemerintahan sekarang ini. “Kita hanya ingin mencarikan solusinya,” ujarnya. (i/ acehkita.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.