Header Ads

Dua Kisah Pengibaran Bendera Aceh Di Gedung DPRA

acehbaru.com –Ooo walah kata orang–orang  sekarang, bila kelupaan atau bola yang ditendang tidak masuk gol. Namun kisah ini bukan main bola, tapi  mahasiswa UIN datang  untuk melaksanakan amanah Qanun Nomor 3 tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh dengan cara menaikkan Bendera Bintang Bulan di tiang bendera halaman DPRA.

Ooo..walah belum berhasil dinaikkan, suara bedil menyalak ke langit, suara alat yang dapat digunakan untuk Peutakot tersebut  membuat mahasiswa tak melanjutkan menaikkan bendera alias Atredd.

BACA JUGA : Bendera Aceh dan ‘Kopprol’ Di Senin Siang

Hari itu mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (UIN Ar-Raniry)  menggelar aksi  memperingati 10 tahun damai Aceh. Mereka  memulai aksi dari bundaran Simpang Lima. Lokasi ini memang sejak dulu jadi idola bagi mahasiswa untuk berdemo.

Mereka hadir dengan dibekali sejumlah  peralatan aksi seperti membawa spanduk, bendera merah putih, juga tak lupa dibawa bendera bulan bintang. Setelah beberapa saat melakukan orasi di simpang lima, puluhan mahasiswa ini bergerak menuju gedung DPRA, situasi lengang dimamfaatkan mahasiswa untuk memamfaatkan tiang bendera yang lagi kosong. Selembar bendera bintang bulan yang sedari tadi dibawa mahasiswa coba dinaikkan. Ups... tunggu dulu

Melihat mahasiswa hendak mengibarkan bendera merah petugas keamanan DPRA dan polisi yang berjaga disana, bergerak dan coba menghentikan.  Merasa dihambat karena hendak mengaplikasikan Qanun nomor 3 tahun 2013 tentang lambang dan Bendera Aceh, mahasiswa memilih berdebat, yang berakhir dengan aksi saling dorong.

Dorr ..bukan suara tali bendera yang melaju ke udara, tapi Dorr suara bedil yang telah lepas ke udara.  Karena Ka jipeutakot  dengan suara bedil, aksi mengibarkan bendera pun terpaksa  dibatalkan.

Dengan kejadian itu niat Presiden Mahasiswa UIN, Said Fuadi Fajar Ramadan dan kawan-kawan  untuk mengingatkan DPRA  supaya jangan Bendera saja yang dijadikan fokus, sementara program kesejahteraan juga harus diperhatikan, mengingat  10 tahun usia perdamaian Aceh masih banyak masyarakat Aceh yang Sekaratal Maut secara ekonomi.

[caption id="attachment_21711" align="alignleft" width="702"]Model penyematan bendera Ala Ketua Komisi I DPR Aceh Ke Sekretaris Dewan A. Hamid Zein. Foto Screenshot SerambionTV Model penyematan bendera Ala Ketua Komisi I DPR Aceh Ke Sekretaris Dewan A. Hamid Zein. Foto Screenshot SerambionTV[/caption]

Kisah pengibaran Bendera di tiang raksasa gedung DPRA bukan kali ini saja terjadi, sebelumnya Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) sempat menyerahkan Bendera Bintang Bulan kepada Ketua Komisi A Adnan Beuransuah untuk dikibarkan, karena menurut DPRA bendera itu telah sah.

Adnan Beuransah dengan sigap menerima dan  membawa bendera tersebut ke halaman kantor DPRA dengan tujuan untuk dikibarkan.  Entah beruntung atau kecewa?.  Tiba-tiba Sekwan Hamid Zein datang melarang. Raut wajah Abdullah Saleh terlihat berang, akhirnya ia pun tak memaksakan diri untuk mengibarkan bebdera di tiang yang tersedia. Namun ia balik menyerahkan bendera tersebut kepada Hamid Zein.

Prosesi penyerahan berlangsung khidmat, dengan bahasa mantap bak penyerahan sesuatu disebuah sertijab.

" Karena tidak boleh dikibarkan, ma-aka bendera ini saya serahkan kepada anda (Hamid Zein)," Kata Abdullah Saleh   berbarengan dengan itu tangan Abdullah Saleh memaksa mengalungkan bendera tersebut ke leher Sekwan, karena  coba di elak maka bendera akhirnya  mendarat dan berselimut muka dan kepala Hamid Zein, nyaris saja kaca mata Sekwan jatuh

Model penyerahan Bendera Aceh  ini mungkin salah satu Icon unik dalam 10 tahun perdamaian Aceh, selain pengibaran bendera masih Jipeutakot dengan bedil.  (i)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.