Header Ads

Berbagai Versi Cerita Tewasnya Brujuek Anggota Din Minimi

Tewasnya Junaidi alias Brujuk (30) warga Sidomulyo Kecamatan Nisam Antara banyak yang penasaran alias menyimpan tanda tanya. Sebuah cerita menyebutkan bahwa Junaidi Alias Brujuek (30) berangkat dari Lhokseumawe menuju Batu Phat, dan perjalanannya di ikuti oleh polisi, kemudian sesampai di SPBU Junaidi coba kabur lalu polisi menembak.

Namun cerita sepertinya kurang menyakinkan, tapi ada versi lain tentang tewasnya Junaidi alias Brujuk ini.

Sumber acehbaru yang lain menyebutkan, beberapa hari sebelum kejadian Brujuk terlibat telponan dengan seorang kawannya berinisial Is di Batu Phat, dari pembicaraan itu mereka berjanji untuk bertemu. Setelah sekian hari pembicaraan itu, akhirnya pertemuan itu terjadi pada hari, Kamis, 27 Agustus 2015.

Is menjemput Brujuk ke rumahnya di Desa Sido Mulyo kecamatan Nisam Antara, saat berangkat dari rumah Brujuek ikut membawa sepucuk senjata api laras panjang jenis AK. Agar tak kelihatan dengan warga di perjalanan Brujuk membungkus senjata buatan Rusia itu dengan goni.

Perjalanan Brujuk bersama IS dari Nisam Antara ke Batu Phat tak ada halangan hingga sampailah di rumah Is. Setelah sampai dirumah senjata disimpan rapi oleh Brujuk disekitaran rumah Is. Lalu mereka berdua berangkat dengan menggunakan sepeda motor RX King menuju SPBU.

Brujuk memarkirkan sepeda motor didepan WC SPBU, lalu masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sementara Is memilih santai diluar menunggu selesai Brujuk di kamar kecil.
Entah siapa informan atau Brujuk dan Is ini masuk dalam perangkap jebakan ??

Polisi datang, Brujuk baru saja keluar dari kamar kecil. Ia terkejut di depan sudah ada anggota Polisi, tak ada ruang gerak bagi Brujuk untuk kabur atau melawan karena ia saat itu tidak memiliki senjata.
Brujuk sudah dalam posisi berhadapan, senjata polisi sudah mengarah ke badan Junaidi (Brujuk), saat itulah Brujuk minta Ampun,……Tapi naas walau Brujuek tanpa senjata ia tak diberikan peluang untuk Ampun.

Dor,  salak senjata mengarah ke bagian dada kiri…….Brujuk tersungkur jatuh. Tak ada pertolongan terakhir untuknya atau ada upaya untuk menyelamatkan,  agar bila dia melakukan salah dapat mempertanggung jawabkan di muka pengadilan nantinya.

Satu peluru lagi melesak ke bagian leher, ia tewas di tempat.

Terlepas apa salahnya Junaidi (Brujuk) tewas dalam keadaan lawan yang tidak berimbang, antara polisi yang bersenjata dengan dia yang bertangan kosong. Tentunya?

Innalillahi Wainna ilaihi Rajiun – Sebuah kata yang pantas kita ucapkan untuk muslim yang meninggal.

Kesedihan yang tak terbayangkan, sudah pasti dirasakan oleh keluarganya, coba kalau itu terjadi terhadap keluarga kita, baik kita sebagai anggota Polisi, TNI, maupun Masyarakat yang sudah kaya maupun yang masih miskin papa.

Apalagi dia tewas dalam kondisi tidak dalam sebuah pertempuran, yang sama –sama beradu peluru dengan peralatan yang imbang.

Insiden memilukan ditengah pemerintah Aceh yang katanya sedang merawat damai menimbulkan tanggapan dari para facebooker.

Ada yang menuliskan pesan untuk Gubernur Aceh “Sudah Cukup Abu Doto” dan ada juga yang mengkristisi tentang kelakuan beberapa pemakai BBM yang sengaja memasang foto DP kondisi mayat Brujuk yang bersimbah darah, juga banyak yang menungkapkan kegelisahan dengan kondisi ini.

“Saya sangat gelisah dengan adanya pelumpuhan tersangka pelanggar hukum di Aceh dengan ditembak di kepala sampai mati. Dengan alasan sebagai anggota kelompok tertentu, seolah-olah sebagai stempel mereka untuk langsung dieksekusi mati.

Ini adalah extra judicial killing yang melanggar aturan negara dan aturan internasional..
Apapun salahnya, polisi mempunyai prosedur yang harus diikuti.. Polisi harus taat aturan untuk menegakkan aturan.Katanya ini negara hukum, hukum sebagai panglima. Bukan senjata..

Senjata pernah menjadi panglima di Aceh untuk waktu yang sangat lama.. Mestinya hal ini tidak terulang..
Saya berharap ada organisasi pegiat HAM atau pihak keluarga untuk melaporkan kepada pihak terkait, khususnya komnas HAM untuk diinvestigasi sesuai dengan aturan yang ada, apakah penembakan di Aceh itu sudah melalui prosedur yang diatur oleh undang-undang..

Semua kita sama di muka hukum.. Apakah rakyat biasa, polisi, tentara, pajabat dan sebagainya.”(irv)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.