Header Ads

Tak Mau Ikuti Gaya Trans, Lebel Pemalas Untuk Papua

Makanan pokok warga Papua berupa Sagu adalah warisan nenek moyang mereka sejak ratusan tahun silam. Hegemoni bertani sawah kali pertama diperkenalkan Belanda saat menjajah di era 1950an, dan kedua lewat program trasmigrasi pada 1980an. Ah juga tak menggoyahkan orang Papua.

Berikutnya ditawarkan dalam proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) konsep ini coba diterapkan oleh Pemerintah di Jakarta untuk tanah Papua, ternyata masih disambut cuek oleh masyarakat disana.

Cang Panah pemerintah bahwa beralih makanan dari Sagu ke beras dengan praktiknya menanam padi adalah yang paling bener, tetap saja tidak mumpuni. BACA KLIPING : MIFEE Program Pangan dari SBY ke Jokowi

EKSPEDISI INDONESIA BIRU

Mengapa orang Papua tak ketularan bertani sawah meski transmigrasi masuk di era 1980-an bahkan sejak Belanda mencetak sawah tahun 1950-an?

Mengapa program sawah sejuta hektare (MIFEE) tak disambut gembira saja?

BACA KLIPING : MIFEE Hancurkan Hutan Marauke

Karena sawah butuh manajemen. Manajemen input seperti penyiapan lahan dan bibit, proses dan pemantauan terkait pupuk dan hama, serta manajemen panen.

Masyarakat Papua adalah peramu. Ikan ‘tinggal ambil’ di rawa, sagu ‘tinggal tebang’ di hutan.
Jadi mereka pemalas?

Alam dan manusia adalah interaksi yang evolutif dan saling membentuk. Satu budaya tak bisa memakai ukurannya untuk menilai budaya yang lain. Apakah di mata orang gurun Kalahari, orang Sunda yang meniup seruling di tepi empang sembari menikmati hawa sejuk pegunungan adalah pemalas?

Bagaimana dengan orang Jakarta yang tak mau berjalan kaki ke halte atau jembatan penyeberangan?
Apakah nelayan yang merasa cukup dengan hasil tangkapannya hari itu dan memilih bersantai di pantai dianggap tak punya etos untuk ‘maju’?

Bila menyebut orang Papua pemalas, lalu bagaimana kita menyebut pengusaha batu bara yang tinggal datang, gali, ambil, kaya? []

EKSPEDISI INDONESIA BIRU

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.