Header Ads

Leumang Maluku Pengobat Rindu

Suparta Arz Jurnalis acehkita.com yang sedang melewati perjalanan keliling Nusantara bersama Tim Ekpedisi Indonesia Biru dalam laman facebooknya menuliskan kenangan saat berada di Halmahera Maluku Utara. Timnya sedang merekam berbagai sisi kehidupan masyarakat disana, termasuk melihat bagaimana tradisi masyarakat Halmahera, salah satunya Toet Leumang.

TOET LUMANG - Ini juga yang sedikit mengobati rindu saya pada satu diantara kuliner di Aceh. Sebelum melihat ini, dulunya saya berpikir 'Toet Lumang' (masak nasi dalam bambu) hanya ada di tempat kelahiran saya.

Di kampung saya, hanya beras ketan yang telah dicampur santan yang dimasak seperti ini, biasa disantap dengan susu atau durian (kalau lagi musim).

[caption id="attachment_24238" align="alignleft" width="700"]Foto: Suparta Arz/Ekspedisi Indonesia Biru Foto: Suparta Arz/Ekspedisi Indonesia Biru[/caption]

Dahulu, selaian pada musim durian, 'Toet Lumang' hanya dilakukan ketika hajatan atau upacara keagamaan. Belakangan, sudah ada yang menjajakan di warung-warung untuk sarapan.


Sementara di pedalaman Halmahera, Maluku Utara, memasak nasi dalam bambu rutinitas ketika diladang atau berburu. Selain beras, singkong dan sayuran juga di bakar dengan cara dan wadah yang sama.

Cara memasak serupa juga dilakulan suku pedalaman Merauke, Papua. Bedanya, di sana yang dibakar dalam bambu adalah sagu.

Persamaan lain, nasi atau sagu (bambu) di pedalaman Halmahera atau Merauke, sama-sama di makan dengan ikan kuah asam dan ikan atau daging bakar.

Mungkin cara masak dan bentuk makanan ini asing bagi kita. Tapi soal rasa, sebaiknya jangan dicoba-coba. Sebab, saya yakin anda akan 'sakaw' (Suparta Arz Ekpedisi Indonesia Biru)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.