Header Ads

Harga Daging Meugang 160 Ribu, Rame Yang Mumang Hana Peng

acehbaru.com | Aceh Utara - Harga daging meugang jelang lebaran fitrah berkisar antara 150.000 hingga 160.000 rupiah, di Kecamatan Sawang dan Muara Batu, Aceh Utara. Kamis, 16 Juli 2015, dini hari.


Nizar, penjual daging musiman ini mengatakan harga melonjak 10.000 rupiah setelah ashar. "agak berat ini, langganan saya ngutang, habis panen baru bayar, yaa mau bagaimana lagi, memang begini kenyataan langganan saya" keluh Bang Ni.


Amatan acehbaru.com, warga terlihat tidak begitu ramai seperti meugang puasa. "ya hana pat tapeugah haba jinoe, boh pineung pih hana bah pih meuhai yum, kasep sikilo kana ka syukur that, hana tateupat geu peng phet that, oo na keurija hana lom na peng" Kata Usman.


Sementara eks GAM lain cerita, mereka ada yang menunggu deringan telpon, ada juga yang mutar- mutar mencari kawan waktu dihutan saat ini sudah sedikit memiliki harta, namun apa dikata, dua pejuang itu enggak mendapat apa apa.


"Oma hana raseuki nyoe, hana soe telpon jak joek sie, sagoe tan wilayah han" kata Adi Abeuk, mantan GAM Daerah Sa Sagoe Tgk Di Lhok Drien, Pase.


Situs berita www.voaindonesia.com pada tahun  2014 pernah menerbitkan laporan harga daging di Aceh saat meugang waktu itu dengan harga tertinggi di Indonesia.


Meugang atau uroe pajoh sie  dalam sejarahnya tercatat dalam Qanun Al Asyi (Qanun Meukuta Alam) yang diterbitkan pada masa Kesultanan Aceh. Disebutkan dalam isi kitab itu, Sultan Aceh secara turun temurun memerintahkan Qadi Mua'zzam Khazanah Balai Silatur Rahmi untuk mengambil dirham, kain-kain, kerbau dan sapi dipotong di hari Meugang.


Selajutnya, dagingnya dibagikan kepada kepada fakir miskin, dhuafa, orang lansa, buta. Selain daging, Sultan juga membagi uang dan kain enam hasta. Hadiah itu dibagikan oleh kepala desa (keuchik) di tempat masing-masing.

“Sultan Aceh memberi bantuannya kepada rakyatnya yang selalu dicintai,” sebut Tarmizi mengutip kitab masa kesultanan Aceh dipimpin oleh Iskandar Muda (1607-1636 M) seperti dipublis Tempo.co


Namun sekarang, walau tradisi Meugang masih di ikuti, namun tradisi bagi-bagi oleh pemimpin atau raja kekinian di Aceh tidak lagi berlaku secara keseluruhan, namun masih ada pemimpin atau toke didaerah daerah tertentu yang dermawan masih sempat memikirkan untuk membagi daging kepada fakir miskin, tapi tradisi bagi-bagi mulai jarang terjadi. Justru yang membudaya Meugang kekinian adalah datang ketempat pemotongan lembu atau pasar, dan yang berlaku adalah duit ganti daging. (ira/bhn)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.