Header Ads

Banjir Kreung Sabee, Sebuah Renungan Jelang Lebaran

acehbaru.com - Muhammad Saleh dalam status facebooknya menuliskan sesuatu yang bermakna tentang musibah banjir Kreung Sabee. Ungkapan yang ditulisnya bukan kata biasa, melainkan sebuah ajakan renungan bagi kita semua dalam melihat kondisi banjir yang paling tidak warga kawasan itu telah berkurang keceriaan di ujung bulan mulia, dan dikala menyambut hari yang penuh fitrah Idul Fitri 1436 Hijriah.

Dari foto yang ditampilkan telihat jembatan terputus, air warna susu berpusar seakan saling menyikut untuk merebut kedepan, dan menerjang yang menghalang. Mensikapi dan memaknai kejadian banjir dan terputusnya jembatan di Krueng Sabe, Aceh Jaya.

“Maka saatnya kita nensosialisasikan Gerakan Tebang Hutan Bersama. Sebagai bentuk kesiapan kita menerima akibat bersama,” Katanya dalam bahasa mengundang hati nurani agar kita sadar bahwa penebangan hutan yang tidak dilakukan oleh semua masyarakat, ternyata telah menyebabkan kesengsaraan bagi semua masyarakat.

[caption id="attachment_23733" align="alignleft" width="300"]Foto | menatapaceh.com Foto | menatapaceh.com[/caption]

Menerima efek saja, atau ikut sama-sama merusak, dan menanggung resiko sama-sama, ketimbang duduk manis tapi resiko tetap kena juga ? Mungkin itu yang mau disampaikan.

Sebab selama ini semua akibat dari bencana yang terjadi dirasakan juga oleh banyak masyarakat yang justeru tidak melakukan tebang pohon dan kerusakan hutan.

Bukankah keadilan itu adalah ketika manfaat dari hasil penebangan hutan dimaksud, juga dapat kita rasakan bersama. Bukan cuma dampak dan akibatkan?. Sembari, diakhir celotehan di dinding facebooknya ia mengucapkan. Selamat Idul Fitri 1436H. mohon maaf lahir dan batin.

[caption id="attachment_23726" align="alignleft" width="300"]foto | menatapaceh.com foto | menatapaceh.com[/caption]

Pada Desember 2014 lalu, Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyebutkan  tingkat kerusakan hutan di Aceh mencapai 23.000 hektare setiap tahunnya. Moratorium logging sejak 2007 ternyata tidak ampuh untuk menahan lajunya kapitalis yang ingin menangguk keuntungan dari hutan Aceh, katanya di Kecamatan Saree, Aceh Besar, Sabtu.

"Oleh karena itu, dibutuhkan aksi nyata untuk menjaga ekosistem hutan, apalagi Aceh merupakan salah satu andalan untuk program perubahan iklim dunia," katanya. (ira)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.