Header Ads

Bahasa Dawan Terancam Punah, Lalu Muncul 'Lu gue'

Ketika Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Tapi faktanya politisi Nasional seakan mengabaikan apa yang telah terjadi berpuluh tahun terhadap semboyan negeri bernama Indonesia. Seperti pernyataan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PAN, Teguh Juwarno, dalam sebuah diskusi Populi Center bertajuk "Mencari Kurikulum yang Maksimum" di Jakarta, Sabtu 13 Desember 2014.

Ia meminta Bahasa daerah diminta untuk dihapus dari mata pelajaran sekolah. Sebab, sudah seharusnya para siswa mendapat pendidikan secara global. "Bahasa daerah itu dihapuskan saja. Karena pendidikan kita sudah seharusnya global," kata Teguh sebagaimana diberitakan inilah.com

Dia menyarankan para siswa  sebaiknya disuguhi pelajaran bahasa Inggris ketimbang bahasa daerah yang bersifat lokal. "Seharusnya anak-anak kita lebih fokus belajar bahasa Inggris. Kalau kita ingin menjadi bangsa yang maju, kita tidak usah berpikir ke masa lalu," tandasnya.

Bahasa daerah yang sejatinya sebuah simbul Kebhinnekaan Indonesia yang semakin tergerus, dan seharusnya dilestarikan, eh, malah diminta untuk dihapuskan.

Fakta tragis kehilangan jati diri ditemukan Tim EKSPEDISI INDONESIA BIRU Bahasa Dawam yang sejatinya adalah bahasa asli masyarakat Timor (barat) terancam punah. 

Dandhy menulis, usai liputan di Boti (NTT), dia membutuhkan 'second opinion' terhadap beberapa wawancara yang dilakukan dalam Dawan, bahasa asli masyarakat Timor (barat).


Dua tokoh adat di Kupang, Lamber Lanus (tengah) dan Oktovianus Ninef, kami minta bantuan. Dua jurnalis lokal kelahiran 1970-an dan 1980-an, sudah angkat tangan.

Usai menerjemahkan, Lamber (67) berujar: "Dari enam anak saya, hanya dua yang mengerti sedikit-sedikit bahasa Dawan. Saya menyesal. Bahasa ini bisa punah."

Bahasa, bukan ihwal kepraktisan komunikasi semata. Dalam bahasa ada pengetahuan. Bila sebuah bahasa lokal punah, tak ada lagi referensi pengetahuan lokal yang bisa dirujuk. Entah itu astronomi tradisional, ilmu bercocok tanam, hingga pengobatan dari tanaman. Termasuk nilai-nilai sosialnya.

Padahal mungkin pengetahuan itu bisa menjadi solusi untuk banyak hal yang kini muncul (dan dulu pernah ada), lalu nenek moyang kita secara empiris telah mampu mengatasinya. Dan inilah mestinya fungsi pendidikan.

Tapi sistem pendidikan nasional sedang bergerak menuju globalisasi dan penyeragaman. Muatan lokal biasanya hanya diajarkan sampai SD, seperti bahasa Dawan.

Media? Lupakan saja. Bahkan radio-radio di pelosok memakai 'lu gue'. Sindrom Jakarta. Sindrom penyeragaman. Bukan keberagaman. EKSPEDISI INDONESIA BIRU

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.