Header Ads

Sepuluh Tahun Perdamaian Aceh, Eh Bendera Saja Tidak Beres

Perjuangan, Peperangan dan Senjata adalah dua hal yang tidak bisa di pisahkan begitu saja oleh siapa pun, termasuk dalam pergolakan Aceh – Republik indonesia yang di tiup oleh Tengku Hasan Muhammad di Tiro, untuk memisahkan diri dari negara kesatuan, tapi akhirnya senjata itu di cincang atas kesepakatan damai.


Kekuatan dan ide Tengku Hasan Muhammad di Tiro, tumbuh secara perlahan – lahan dalam jiwa dan sanubari rakyat Aceh, pelatihan pejuang ke negara Libya memunculkan satu dugaan kuat dari orang Aceh, bahwa perjuangan ini akan di menangkan bangsa Aceh, walhasil setelah lebih kurang 32 tahun berjuang yang di mulai sejak 1976, dengan pulahan ribu nyawa rakyat melayang, peperangan di akhiri dengan sebuah perdamaian.


Perdamaian di gagaskan dengan begitu baik, nota ke nota, poin ke poin, untuk tidak memunculkan polemik di kemudian hari, antara Aceh dan Jakarta antara GAM dan RI, namun apa jadinya, sudah sepuluh tahun perdamaian urusan bendera saja tidak beres, apa ini sebenarnya?.


“Bukan kan prihal bendera tersebut jelas dalam MoU Helsinki yang di tanda tangani antara GAM dan RI”, sungguh menyayat hati bagi sang pejuang tak terkecuali rakyat Aceh.


Saat GAM sudah semakin dekat dengan titik penandatanganan perdamaian pada tahun 2005, sebuah pertemuan di gagaskan oleh rakyat Aceh di negara Denmark, Eropa, para petinggi – petinggi GAM hadir di sana, sebuah muafakat pun terjadi di sebuah gedung yang terletka di Distric Fjerritslev, Aalborg,


Denmark, semua setuju agar beberapa hal penting untuk di perhatikan benar – benar, antaranya, Bendera Aceh adalah hal utama yang perlu di pajang di bumi tanah rencong, tapi sudah 10 tahun damai, bahkan sudah 3 tahun lebih negeri ini di pimpin pembesar GAM Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf, mana benderanya, mana ?, tidak adakan ?, jadi apa ini maknanya?.


Tak disangka, pengorbanan rakyat dan pengorbanan pejuang Aceh akan berakhir tanpa bendera, terlihat jelas saat manyat – manyat pejuang dibawa dalam tandu, di tutup dengan bendera yang berlambang bintang dan bulan, dengan warna semangat merah dan hitam serta putih, semua yakin saat itu kepada para nahkoda perjuangan bahwa, penipuan akan berakhir, rakyat Aceh akan hidup senang, bendera Aceh akan berkibar di anggkasa, jalan – jalan akan teraspal semuanya, bahkan ada isu miring yang berkembnag, “dengan uang Aceh banyak jalan yang bisa kita bangun dengan emas”, mana emasnya, bendera aja ngak beres.


dr. Zaini Abdullah adalah termasuk diantara orang yang harus bertanggung jawab untuk semua ini, sebab perdamaian yang di tengahi Martti Ahtisaari Mantan Perdana Menteri Finladia nampaknya dr. Zaini terlibat langsung, sehingga ada kemungkinan nota dan poin perjanjian damai bisa di pelintir tanpa perlu implementasi, sungguh sangat aneh dan luar biasa, sepuluh tahun sudah perdamaian bendera saja tidak beres.


Tidak bisa dibilang, tidak mungkin juga di halang, jika hati dan sanubari serta jasad rakyat Aceh tidak tentram dan tidak tenang ketika mereka melihat sejauh mana sudah implementasi MoU Helsingki berjalan, mana kesejahteraan untuk GAM mana kesejahteraan untuk rakyat, mana bendera Aceh yang akan menjadi kebanggaan semua orang, berpikirlah dengan jernih wahai para ptingi-petinggi agar pemberontakan tidak berulang lagi, kami tidak mau lagi hidup dalam konflik, kami juga tidak mau di tipu, hentikan saja Aceh tipu Aceh. (*)


Opini ini di kirim oleh Tarmizi Age Alias Mukarram GAM Eks Denmark

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.