Header Ads

Pusaran Itu Merenggut Keceriaan Lebaran

Siang itu, dua ratusan warga begitu sibuk. Semua mata memandang ke arah Sungai Arakundo di Desa Pante Gaki Balee, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Dua buah speed boat milik Batalion Infanteri 7 Marinir menghidupkan mesin.


Sejumlah personelnya sudah siap di dalamnya, lengkap dengan pelampung di badan. Dalam hitungan menit, perahu itu memutar haluan dan menyisir Sungai Arakundo.


Ratusan warga, Kamis (18/11) itu, memang berharap pada kegigihan prajurit marinir. Maklum, sejak Selasa (16/11/2004), tiga warga yang tewas tenggelam di sungai sedalam 15 meter itu belum ditemukan mayatnya.


Ratusan warga selama tiga hari terus menyusuri sekitar lokasi tenggelamnya Nurmala, 18 tahun, Firdaus, 4 tahun, dan Atifurrahmi, 18 tahun. Ketika itu, mereka baru saja pulang dari acara Lebaran di Desa Buket Kareung bersama Ridwan, 30 tahun, dan Mulyana, 18 tahun.


Mereka berlima kembali dari rumah saudaranya sekitar pukul 11.00, lalu menyeberangi sungai dengan sampan tua yang sudah tersedia. Setelah semua naik, sampan langsung berangkat. Namun, malang tak bisa ditolak.


Baru lepas sekitar 4 meter dari tepi sungai, air pusaran menghadang sampan hingga sedikit berputar. Karena kaget, Firdaus bangun dan menangis ketakutan. Kondisi sampan yang oleng membuat Atifurrahmi, sang kakak yang duduk di belakang, pun bangun dengan maksud mengambil sang adik.


Namun, sampan tidak lagi terkendali hingga semua terempas ke dalam sungai yang dalamnya 15 meter itu. Upaya untuk menolong dilakukan warga, namun Nurmala, Firdaus, dan Atifurrahmi cepat tenggelam dibawa pusaran air. Beruntung, Ridwan dan Mulyana bisa selamat dengan berpegangan pada potongan kayu yang kemudian ditarik warga lain.


Kabar tenggelamnya tiga remaja itu cepat tersebar ke seluruh Desa Buket Kareung dan Pante Gaki Balee. Warga pun segera menyisir sepanjang sungai. Karena medan yang berat, mereka meminta bantuan pasukan TNI dari Yonif 7 Marinir, dan dua speed boat pun diterjunkan. Sejak Rabu (17/11), beberapa anggota marinir melakukan penyelaman, namun karena derasnya air di bawah dan kayu-kayu besar yang mengganjal, pencarian itu tak membuahkan hasil.


Pencarian dilanjutkan Kamis. Kali ini unsur gaib dimainkan. Salah satu komandan marinir yang terjun berembuk di darat dan memanjatkan doa agar jasad ketiga remaja cepat ditemukan. Dengan kepercayaan bahwa bunyi senjata bisa menjadi cara mujarab mengusir makhluk halus, atas izin warga dan kepala desa setempat, dua peluru dimuntahkan ke dalam air. Tidak lama kemudian, warga melihat sesosok mayat mengapung, tidak lain adalah Atifurrahmi.


Speed boat yang sudah disiapkan segera meluncur ke tengah sungai dan mengangkat mayat yang sudah lama dinanti kemunculannya. Jasad Atifurrahmi disemayamkan di rumah terdekat, kemudian dibawa pulang keluarganya dengan bantuan mobil Palang Merah Indonesia Ranting Kecamatan Jambo Aye, Aceh Utara. Sementara itu, mayat Nurmala dan Firdaus, hingga kemarin belum diketemukan.


Sungai Arakundo yang bermuara ke Kuala Malihan, Kecamatan Simpang Ulim, bukan kali ini saja merenggut nyawa. Hampir tiap tahun, dua sampai tiga orang tenggelam. Pada 2003 lalu, seorang santri murid pasantren di Kecamatan Langkahan juga tenggelam dan hingga kini belum diketemukan jasadnya.


Pada tahun itu, seorang keluarga Mulyana juga tewas tenggelam. Jatuhnya korban itu terus terjadi sejak jembatan gantung yang berada di Desa Teupin Bate, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, dirobohkan gerombolan tak dikenal pada tahun 2000 silam.


Warga sekitar sungai di daerah perbatasan Aceh Timur dan Aceh Utara ini memang lebih suka menyeberang Sungai Arakundo dengan sampan kecil bila hendak ke kebun, karena mempersingkat waktu perjalanan. Jalan pintas menggunakan sampan sangat mudah mencapai pasar, sementara untuk menempuh jalur darat memerlukan waktu 45 menit.


Kini, warga mengharapkan dibangunnya kembali jembatan gantung di atas sungai. Permohonan kepada pemerintah daerah telah disampaikan warga sejumlah desa di daerah itu. Oktober lalu, ketika Gubernur Aceh Abdullah Puteh datang ke Kecamatan Simpang Ulim, warga kembali memohon agar pemerintah daerah merampungkan Jembatan Teupin Bate.


Namun, hingga sekarang belum tampak ada realisasinya. Mungkin akan ada korban lain menyusul Nurmala, Firdaus, dan Atifurrahmi. (kortem 20 Nov 2004)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.