Header Ads

LBH Kritisi Polisi Tembak Mati Pengedar Sabu Di Peusangan

acehbaru.com | Bireuen- Yayasan Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) LBH Banda Aceh mengatakan tindakan polisi Bireuen menembak mati Apalah (44) terduga pengedar sabu dan DPO pelarian LP Janto d ante Lhjong Kecamatan Peusangan melanggar UUD. Kamis, 25 Juni 2015


Muhammad Reza Maulana, S.H. Ketua Devisi Advokasi LBH Banda Aceh tindakan polisi yang langsung menembak mati Apalah membuat miris banyak pihak, kaena saat saat penggrebekan itu tidak ada suatu kondisi keterancaman jiwa anggota polisi, karena korban tidak menggunakan senjata api maupun senjata tajam.


“Tindakan polisi bireuen melanggar UUD 45 terkait dengan hak hidup sesorang , dan tindakan menembak yang kemudian tersangka mati itu tidak punya alasan yang kuat,”Ujar Reza


Reza menyebutkan seharusnya polisi menganut asas praduga tidak bersalah, karena belum ada Putusan Hakim yang Inkrah (Final and Binding) seorang Terdakwa sekalipun belum dianggap bersalah dimata hukum. Bahkan dalam Hukum Internasional pada Konvenan tentang HAK SIPIL POLITIK yang telah diratifikasi dengan UU Nomor 12 Tahun 2005 tentang Sipil Politik dimana dengan tegas dan jelas dalam Pasal 6 disebutkan “bahwa setiap warga negara berhak atas hidup (right to life)”.


Menurut Reza dasarnya polisi hanya diberikan kapasitas melakukan penyidikan, bukan penuntutan sebagaimana Jaksa, dan Bukan juga memberikan Putusan atas nasib dan hidup matinya seseorang seperti halnya Hakim.


“Kami berharap anggota Kepolisian yang menembak mati Korban haruslah ditindak tegas Sehingga kejadian yang serupa tidak terulang kembali,” Tambah Reza


Reza menambahkan Polda Aceh untuk segera menindak pelaku penembakan karena pelaku telah melakukan tindakan pembunuhan terhadap korban dalam hal ini telah melanggar ketentuan Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 Tahun Penjara. Dan kepada Keluarga korban silahkan melaporkan ke Kepolisian Resor Bireun atau bahkan ke Polda atau Mabes Polri sehingga kejadian tersebut menjadi terang dan jelas dimuka persidangan dan pelaku mendapat hukuman yang setimpal.


Aktivis LBH itu juga memperingatkan kepolisian Resort Bireuen, jangan bangga dengan kejadian tersebut, ini bukan kesuksesan penangkapan bandar sabu atau telah berhasil mematikan pengedaran narkoba, ini adalah kemunduran dan momok bagi polisi sehingga polisi harus melakukan introspeksi sebagai bahan pelaksanaan tugas yang lebih baik.


Alasan Polisi


Terkait dengan hal ini, polisi beralasan tindakan melakukan penembakan dalam insiden penggrebekan rumah Apalah, karena Apalah melarikan diri dan polisi menduga Apalah memiliki senjata api. Polisi mengklaim dalam pengrebekan sebelumnya ditempat yang berbeda, Apalah sambil kabur melepaskan tembakan, dan sebagai bukti ditemukan selonsong peluru.


“Beberapa kali petugas melepaskan tembakan peringatan ke udara, tapi tembakan yang dilepaskan petugas tak dihiraukan. Lalu, tim kita mencoba melumpuhkan di bagian kaki, karena korban saat coba dilumpuhkan lari, sehingga peluru mengarah ke pinggang, sehingga korban kena peluru di pinggang kanan,” Kata AKBP Ali Khadafi Kapolres Bireuen.


Seperti diberitakan sebelumnya Apalah , 44 tahun seorang bandar Sabu tewas ditembak, Senin 22 Juni 2015. Saat itu polisi hanya menyita 2 paket sabu yang berjumlah 1,15 gram dan 3 alat penghisap (bong) sabu. Apalah juga tercatat sebagai pelarian Lembaga Pemasyarakatan Jantho, Aceh Besar, berinisial ABU alias Apalah, 44 tahun, Senin, 22 Juni 2015. (ira)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.