Header Ads

Hari Buku Nasional, “Aceh akan Maju Bila yang tak Mau Membaca Ditembak di Tempat”

acehbaru.com | Aceh Utara – Hari ini, Minggu 17 Mei 2015 merupakan Hari Buku Nasional. Menanggapi hal tersebut dan minat baca di Indonesia khususnya di Aceh, penulis Aceh Arafat Nur angkat bicara. Menurutnya, minat baca di Aceh tergolong paling rendah.


“Hal ini terbukti pengusaha toko-toko buku di Aceh seperti di Lhokseumawe bangkrut, terpaksa tutup dan beralih ke usaha lainnya,” kata pemenang Sayembara Novel Nasional Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2010 tersebut. “Kalau di Medan terlihat lebih baik. Toko-toko buku lebih hidup dan buku baru kerap diminta pembaca.”


Ia mnengatakan, sebuah negara akan sulit maju bila penduduknya malas membaca. Di negara maju seperti Rusia, murid setingkat TK diberi bintang sebagai bentuk apresiasi pendidik agar semangat membaca muridnya meningkat. “Jadi murid merasa lebih dihargai. Mereka akan berlomba untuk membaca,” tandas Arafat.


“Di tempat kita ini, kebanyakan pelajar hanya diharuskan membaca buku-buku pelajaran terkait, itupun lantaran untuk mencari jawaban,” tambahnya.


Tak hanya itu, Arafat mengatakan, di negara-negara maju lainnya penulis juga diapresiasi dan lebih dihargai. Mereka mendapat tunjungan atau gaji agar lebih bersemangat baik menulis atau membaca.


Peraih Khatulistiwa Literary Award 2011 itu menuturkan, penyebab minimnya minat baca di Aceh juga dipicu oleh manusianya yang menganggap membaca bukan sebuah kepentingan, padahal orang-orang hebat adalah berasal dari orang-orang yang gemar membaca.


Arafat menyindir Amerika dalam hal minat baca. Ia menyebutkan bahwa Amerika awalnya adalah pendatang, tapi kenapa sekarang mereka maju? Itulah karena mereka menganggap membaca merupakan hal yang penting, dengan membaca maka akan pintar.


“Kalau di sini toko buku saja bisa bangkrut karena tak ada pembaca, kalau kita lihat buku-buku di perpustakaan pun sudah berdebu,” jelasnya.


Solusi agar minat membaca meningkat, lanjut Arafat, dari usia dini anak-anak harus dibiasakan membaca, setiap orang tua di rumah harus mencontohkan dan memberi pemahaman bahwa membaca merupakan kebutuhan. Selain itu anak-anak juga harus diapresiasi agar mereka berlomba membaca.


“Di sekolah juga tak kalah pentingnya. Di tingkat SD, buat siswa merasa bahwa membaca adalah kebutuhan,” papar pria yang juga berprofesi sebagai wartawan tersebut.


Sebagai upaya untuk membuat masyarakat sadar akan pentingnya membaca, Arafat dalam buku-bukunya yang sudah terbit seperti novel Lampuki, Burung Terbang di Kelam Malam dan yang terbaru sekarang novel Tempat Paling Sunyi juga mempertegas pentingnya membaca.


“Abdul bertanya kepada seorang guru sejarah, bagaimana caranya supaya Aceh maju? Gurunya itu menjawab bahwa Aceh akan maju bila yang tak mau membaca diberlakukan hukuman mati oleh pemerintah dengan cara ditembak di tempat,” kata Arafat mengambil sebuah kutipan dalam novelnya. | AMI |

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.