Header Ads

Gara-Gara Biksu Ini Etnis Rohingya Menderita

acehbaru.com - Ribuan orang suku Rohingya kabur dari tempat asal di Propinsi Rakhien atau Arakan di Myanmar. Etnis Rohingya terpaksa harus minggat dari tanah indatu mereka, ketimbang memilih dan menjalani hidup ditanah mereka. Kini lebih dari 700 orang ditampung di empat tempat penampungan di Pesisir Utara dan Timur Propinsi Aceh




[caption id="attachment_22537" align="alignleft" width="702"]Setelah ditolong nelayan Aceh. "Apa yang terjadi berikutnya? " Setelah ditolong nelayan Aceh. "Apa yang terjadi berikutnya? "| Foto Qisti/acehbaru.com[/caption]

Sejumlah imigran Rohingya baik yang di tempat penampungan Kuala Cangkoy Aceh Utara, Kamp penampungan Eks Pabrik Kertas Bayeun Aceh Timur dan Penampungan Kuala langsa dan SKB Aceh Tamiang memilih mati di Indonesia ketimbang kembali kenegaranya yang mayoritas di huni oleh penduduk beragama Buddha itu.




[caption id="attachment_22538" align="alignleft" width="300"]Diantara 433 Pengungsi Etnis Rohingya dan Banglades yang diselamatkan nelayan Aceh pada dinihari Rabu 20 Mei 2015/ Foto Qisti acehbaru.com Diantara 433 Pengungsi Etnis Rohingya dan Banglades yang diselamatkan nelayan Aceh pada dinihari Rabu 20 Mei 2015/ Foto Qisti acehbaru.com[/caption]

Okezone, merilis sebuah cerita tentang sebab musabab keesengseraan terjadi, menurut situs online, akar masalah di picu oleh seorang biksu Buddha. Biksu bernama Ashin Wirathu itu menyebarkan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar. Dia menanamkan ketakutan suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara yang dulu dikenal dengan nama Burma itu.



Kemunculan Ashin Wirathu




[caption id="attachment_22536" align="alignleft" width="696"]ashin-wirathu-biksu-radikal-dalang-penyiksaan-rohingya-xnjXgdJRXe Ashin Wirathu (Foto: The New York Times/Okezone.com)[/caption]

Sepuluh tahun lalu, publik belum pernah mendengar nama biksu dari Mandalay tersebut. Pria kelahiran 1968 itu putus sekolah pada usia 14 tahun. Setelah itu, dia memutuskan untuk menjadi biksu.


Nama Ashin Wirathu mencuat setelah dia terlibat dalam kelompok ekstremis antimuslim "969" pada 2001. Karena aksinya, pada 2003 dia dihukum 25 tahun penjara. Namun, pada 2010 dia sudah dibebaskan bersama dengan tahanan politik lainnya.


Ashin Wirathu Jadi Tokoh Masyarakat


Setelah peraturan Pemerintah Myanmar melonggar, Ashin Wirathu makin aktif bersuara di media sosial. Ashin menyebarkan pesan melalui rekaman ceramah yang diunggah di YouTube dan Facebook. Sampai saat ini, dia berhasil menjaring sekira 37 ribu pengikut.


Pada 2012, ketika pertumpahan darah antara Rohingya dan Buddhis terjadi di Provinsi Rakhine, Ashin semakin dikenal dengan pidato penuh amarahnya.


Ceramah dia selalu dimulai dengan kalimat yang berbunyi, "Apapun yang kamu lakukan, lakukanlah sebagai seorang nasionalis". Saat ditanya, apakah dia adalah "Bin Laden Burma", pria itu tidak menampiknya.
Keinginan Ashin Wirathu


Ashin Wirathu menyebarkan ajaran kebencian dalam setiap ceramahnya. Dia selalu menyasar komunitas Muslim, seringkali dia memojokkan Rohingya. Pria inilah yang memimpin demonstrasi yang mendesak orang-orang Rohingya direlokasi ke negara ketiga.


Ashin juga mengkambinghitamkan kaum Muslim atas bentrokan yang terjadi. Dia terus mengulang alasan tak masuk akal soal tingkat reproduksi Muslim yang tinggi.


Biksu itu mengklaim perempuan Buddhis dipaksa pindah agama. Dia memimpin kampanye yang mendesak Pemerintah Myanmar mengeluarkan peraturan yang melarang perempuan Buddhis menikah dengan pria beragama lain tanpa izin pemerintah.


Lawan Ashin Wirathu


Ashin memimpin sekelompok massa yang berani melakukan kekerasan demi mempertahankan pandangannya. Pengaruh kuat Ashin menyebabkan setiap orang yang berbeda pandangan akan menjadi target pendukungnya.
Masyarakat sesungguhnya takut dengan kekejaman kelompok Ashin. Namun, Ashin tetap mendapat dukungan banyak orang mengenai status kewarganegaraan Rohingya.


Tanggapan Biksu Lainnya


Banyak orang ingat peristiwa pada 2007 di Myanmar. Saat itu, para bisku buddha memimpin perlawanan terhadap kekuasaan mliter di Myanmar. Pesan Ashin saat itu tidak mendapat dukungan banyak orang.


Namun, banyak biksu di Myanmar yang memilih bungkam menghadapi Ashin. Sebagian lainnya, takut diserang Ashin. Sulit untuk memprediksi seberapa kuat pengaruh Ashin di kalangan biksu.


Ashin Wirathu memimpin lebih dari 2.500 biksu di biara Mandalay. Ketika ia menyelenggarakan konferensi mengenai perlindungan perempuan, para biksu memenuhi biaranya.


Beberapa biksu melontarkan kritikan atasnya. Seorang biksu bernama U Ottara mengaku kaget mendengar komentar-komentar yang disampaikan para biksu.


"Saya merasa sangat sedih. Saya bisa bilang, kata-kata yang mereka ucapkan bukanlah kata-kata yang digunakan seorang biksu," kata Ashin kepada BBC, Rabu (20/5/2015). Beberapa biksu khawatir bila kekejaman Ashin ditangkap dunia internasional sebagai representasi ajaran Buddha.


Alasan Pemerintah Myanmar Tidak Menghentikan Ashin Wirathu


Setelah hampir setengah abad dikuasai militer, kini Myanmar dipimpin oleh warga sipil. Namun, bentrokan antar agama memperlambat reformasi negara itu.


Sebagian orang percaya, Ashin diterima pemerintah kareana dia menyuarakan pendapat soal pandangan-pandangan populer, misalnya soal Rohingya. Ashin seolah menjadi corong pemerintah yang tidak bisa menyuarakan keinginannya sendiri karena alasan diplomatik.


Tanggapan Perempuan Myanmar


Kaum perempuan Myanmar adalah satu-satunya kelompok yang konsisten menentang pandangan Ashin Wirathu. "Dia memberi reputasi buruk untuk negara kita. Dia menodai jubah biksu yang dia gunakan," kata Sekretaris Jenderal Liga Perempuan Burma, Tin Tin Nyo.


Dia juga mengatakan, kampanye Ashin Wirathu yang mengusulkan peraturan yang membatasi perempuan menikahi pemeluk agama lain, bukanlah bentuk perlindungan perempuan melainkan bentuk kontrol atas perempuan.


"Perempuan dapat memutuskan sendiri siapa yang ingin dia nikahi. Perempuan dapat memilih sendiri agama yang ingin dianut," kata Tin Tin Nyo. | IRA | sumber okezone.com|

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.