Header Ads

Tren Baru Di Cina dan Taiwan Pelayat Orang Meninggal Dihibur Penari Syur

acehbaru.com | Beijing : Weleh-weleh ada -ada saja. Tahukah anda pemakaman yang banyak dipahami sebagai suasana duka, namun berbeda kebiasaan kekinian yang terjadi, dimana kebiasaan baru ini adalah  dalam acara pemakaman di Cina dan Taiwan. Para pelayat kini disuguhi pertunjukan heboh: penari erotis.


Kondisi ini berkat keyakinan warga Desa, dimana mereka beranggapan bahwa semakin banyak orang yang hadir di pemakaman adalah tanda kehormatan bagi almarhum. Sehinggga untuk memaknit orang agar datang, maka pilihannya adalah pertunjukan Tarian erotis.


Dengan kehadiran tarian erotis, maka  banyak orang akan datang, dan dengan fakta itu membuat keluarga dan almarhum terhormat.


Pertunjukan ini dilakukan setelah upacara pemakaman, bisa jadi dengan hiburan ini suasana duka yang sedang mendsera keluarga bakal hilang dengan danya hiburan dan cukup banyak orang dirumah duka.


Kemungkinan tradisi yang agak unik ini bukan terjadi disemua tempat di Cina dan Taiwan, namun untuk saat ini hanya ditemukan di di desa-desa Provinsi Heibei, Cina dan Taiwan.


Pemerintah Cina tidak menganggap ini suatu yang lumrah. Kementrian Kebudayaan Cina telah melakukan protes terhadap kebiasaan yang unik dan tak biasa. dan ini dianggap suatu penyimpangan dari norma yang berlaku.


"Pertunjukan ilegal tersebut telah mengganggu pasar hiburan lokal dan adat istiadat masyarakat menjadi rusak," kata juru bicara Kementerian, seperti yang dilansir Time dan Tempo.co pada Kamis, 23 April 2015.


Pertunjukan erotis tersebut menggemuka setelah Wall Street Journal (WSJ) membuat liputan tentang penari erotis yang terjadi di Jiangsu dan Handan. WSJ menampilkan gambar beberapa penari melepas pakaian satu per satu di depan orang tua dan anak-anak kecil, kemudian mereka mulai meliuk-liukan tubuhnya layaknya ular. Video-videonya pun telah beredar luas di media sosial, terutama Youtube, dan telah disaksikan oleh banyak orang.


Sebagai bentuk ketidaksetujuan, Pemerintah telah menangkap pihak-pihak yang bertanggung. Salah satunya adalah grup tari Ensambel Tari Mawar Merah dengan denda sebesar US$ 11.300 atau Rp 146,7 juta. Tiga orang lainnya juga telah ditangkap untuk kejahatan serupa di waktu dan kesempatan yang berbeda. | Lia | Sumber TEMPO|


 

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.