Header Ads

Kota Langsa Diskusi Soal Manggrove

acehbaru.com | Langsa - -- Pemerintah Kota Langsa didukung Friends of Orangutans menggelar diskusi publik bertemakan upaya perlindungan kawasan ekosistem mangrove Kuala Langsa di Rangkang Kupi, Senin 27 April 2015. Pelaku operasi senyap penebang maggrove terkesan masih bebas beroperasi tanpa suatu tindakan dari otoritas setempat.


Dalam diskusi itu hadir pemateri yakni, perwakilan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Ir TM Zulfikar, Kepala KPH 3 UPTD Dinas Kehutanan Aceh, Anas Mahmudi, Asisten I Pemko Langsa, Suriyatno, dan Ketua Tim Asistensi Gubernur, Zakaria Saman.


Perwakilan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Ir TM Zulfikar memamaparkan tentang upaya pelestarian kawasan pesisir dan mangrove di Langsa dengan melibatkankan kolaborasi muliti pihak. “Para stakeholder bisa menggagas pengelolaan dengan pendekatan multi stakeholder,” kata Anggota Tim Asistensi Gubernur ini.


Kepala KPH III, Anas Mahmudi mengatakan, saat ini Pemerintah Aceh sudah membetuk KPH untuk bekerja mengelola kawasan hutan. Lembaga ini, katanya, dibentuk untuk menjembatani kepentingan para stakeholder yang berkepentingan dengan pemanfaatan kawasan hutan.


Anas menambahkan, kawasan ekosistem mangrove sangat penting untuk dikelola secara berkelanjutan dengan skema perizinan yang sederhana. “Sesuai dengan Undang-undang, KPH bisa mengelola hutan mangrove bersama masyarakat, dan pola ini akan kita rumuskan lagi,” katanya.


Asisten I Setdako Langsa, Suyetno mengatakan, kebijakan pengeloaan mangrove di daeragh masih sangat parsial dan terkesan jalan sendiri diantara para pihak. “Kami melihat semua stakeholder belum memiliki kebijakan integral yang sistematis,” katanya.


Sementara itu, Ketua Tim Asistensi Gubernur, Zakaria Saman mengatakan, kembalikan habitat mangrove seperti dahulu kala. Ia mencontohkan, di Thailand yang menanam kawasan hutann mangrove di seluruh garis pantai.


Mantan Menteri Pertahanan GAM ini juga mengajak semua pihak yang bekerja di kawasan hutan mangrove agar kembali memulihkan kawasan hutan mangrove. “Dulu kita terprovokasi dengan ekspor arang ke Jepang, sehingga kita menebang semua bakau,” katanya.


Ke depan, pria yang kerap disapa Apa Karya ini menyarankan agar Pemko Langsa dan seluruh LSM terkait agar kembali menanam nipah. “Ini adalah bahan baku gula yang paling diminati, makanya saya menyarankan ayuk menanam nipah dan dikelola bersama masyarakat,” pungkasnya.


Ketua Panitia, Crisna Akbar mengatakan, kegiatan tersebut melahirkan sejumlah rekomendasi di antaranya terkait pengelolaan kawasan hutan mangrove bersama para stakeholder di Langsa. “Panitia akan menindaklanjuti rekomendasi ini untuk kesinambungan pengelolaan dan pelestarian kawasan hutan mangrove,” demikian Crisna Akbar. | IRA|

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.