Header Ads

Aji Jakarta Desak Polres Bekasi Usut Kekerasan Terhadap Jurnalis Radar Bekasi

acehbaru.com | Jakarta - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam pelaku kekerasan terhadap jurnalis Radar Bekasi, Randy Yosetiawan Progo, 27 tahun. Saat kejadian, Kamis lalu, 19 Februari 2015, tiga orang yang dibawa oleh Ketua DPD Partai Amanat Nasional Kota Bekasi Faturahman


Koordinator Divisi Advokasi AJI Jakarta Ahmad Nurhasim dalam rilis yang diterima redaksi menyebutkan Daud memukul dan mengeroyok Randy di Rumah Makan Arraunah, Jalan Serma Marzuki, Margajaya, Bekasi Selatan.


Kekerasan ini terjadi di hadapan Faturahman Daud dan Ketua DPC PAN Bekasi Utara,Iriansyah. Akibat pukulan ini, Randy menderita luka memar di bagian pipi kiri, lengan kiri, dan pinggang kiri. Ketiga orang itu mengeroyok Randy diduga kuat atas perintah Faturahman Daud.


Kekerasan ini berkaitan dengan pemuatan berita di Radar Bekasi edisi Rabu 18 Februari 2015. Berita yang ditulis Randy ini memuat pernyataan Ketua DPC PAN Bekasi Utara Iriansyah yang menyatakan belum menentukan sikap mau mendukung calon Ketua Umum PAN Hatta Rajasa atau Zulkifli Hasan dalam Kongres yang digelar awal Maret nanti.


Iriansyah juga mengkritik pimpinan DPD PAN Kota Bekasi yang dianggap tidak memperhatikan kader partai. Dia berharap pimpinan PAN Kota Bekasi memberikan perhatian kepada kader-kadernya agar partai bisa meraihsuara yang lebih besar dalam pemilu maupun pilkada.


Berita tersebut dianggap merugika Faturahman. Karena itu, dia mengajak bertemu Randy untuk membahas berita tersebut. Dalam pertemuan itu, Randy disuruh minta maaf dan dipaksa menyerahkan kartu tanda penduduk.


Alamat rumahnya dicatat. Jika tidak minta maaf, Randy diancam akan dihabisi. Dalam pertemuan inilah, Randy dipukuli dan dikeroyok oleh tiga orang dihadapan Faturahman. Kini Randy telah melaporkan kasus kekerasan ini ke Kepolisian Resor Kota Bekasi.


AJI Jakarta menyatakan kekerasan terhadap jurnalis karena tidak puas dengan pemberitaan, tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Tindakan kekerasaan terhadap jurnalis merupakan tindak pidana sekaligus mengancam kebebasan pers yang telah dilindungi UU No.40/1999 tentang pers.


Di dalam UU Pers, ketidakpuasan atas sebuah berita, harus diselesaikan lewat mekanisme hak jawab dan hak koreksi, yakni memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan yang merugikan nama baik narasumber atau pembaca. Pasal 5 Undang-Undang Pers mewajibkan media yang memberitakan tersebut wajib memuat hak jawab tersebut secara proporsional.


Pasal 8 Undang-Undang Pers dengan tegas menyatakan, dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum. Pasal 4 juga menyatakan, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.


Pers, menurut Pasal 6, berperan melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. Adapun setiap orang yang secara sengaja melawan hukum melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi tugas pers terancam dipidana penjara maksimal dua tahun atau denda Rp 500 juta.


Dalam kasus kekerasan yang menimpa jurnalis Radar Bekasi, Randy Yosetiawan Progo, AJI Jakarta menyatakan:


1. Mendesak Kepolisian Kota Bekasi untuk mengusut hingga tuntas pelaku yang memukuli dan mengeroyok jurnalis Radar Bekasi Randy Yosetiawan Progo. Kami mendesak polisi segera menetapkan tersangka dan menyeret pelakunya ke pengadilan agar kasus serupa tidak berulang di kemudian hari, khususnya di Kota Bekasi.


2. Meminta pengurus partai politik di pusat dan daerah untuk menaati UU Pers dalam menyelesaikan sengketa pemberitaan. Sehubungan dengan kasus kekerasan yang terjadi di Kota Bekasi, AJI Jakarta menghimbau Partai Amanat Nasional untuk turut serta menjaga kebebasan pers sebagaimana telah diatur dalam UU Pers. | Rilis|

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.