Header Ads

"Kami agak takut dengan Pak Kabareskrim, apa mungkin mentersangkakan semua orang?

acehbaru.com– Polemik pasca penetapan tersangka oleh KPK dibawah pimpinan Abraham Samad terhadap Komjen Budi Gunawan berbuntut panjang. Samad dan Bambang Widjayanto balik ditersangkakan oleh Kepolisian. Minggu, 22 Februari 2014.


Penetapan tersangka terhadap Bambang Widjayanto atas kasus dugaan pengarahan saksi dalam kasus pilkada dimana Bambang masih berfrofesi sebagai pengacara dijadikan alasan oleh mabes polri dalam menetapkan mantan pimpinan KPK itu sebagai tersangka.


Tidak cuma itu, dengan kasus yang masih dikategorikan pidana umum tersebut dalam artian bukan kasus terorisme yang membahayakan negara, tapi dalam penangkapan Bambang seperti seorang Buronan kelas kakap, terjadi didepan anaknya, dan tangan Bambang Diborgol.


Kemudian berlanjut ke kasus Abraham Samad, Samad dituding memalsukan dokumen kependudukan pada tahun 2007. Dimana saat itu Samad dituding membantu perempuan yang bernama Feriyani Lim dalam hal membuat passport dan Samad dituding bersalah karena memasukkan nama Feriyani Lim dalam kartu keluarganya.


Dua kasus yang disangkakan Polisi kepada dua pimpinan KPK yang terlihat sangat semangat memberantas korupsi itu, menjadi alasan Presiden Jokowi memindahkan kedua orang tersebut dari kantor KPK.


Kondisi tersebit melahirkan empati dari berbagai kalangan di Indonesia. Walau dalam berbagai keterangan pihak kepolisian bahwa penetapan tersangka AS dan BW sudah sesuai prosedur namun secara pemandangan dan ilustrasi terlihat sedikit aneh.


Bahkan dalam dua kasus tersebut terlihat polisi seperti memakai bahan bakar Avtur dalam memburu kasus. Pernahkah anda membayangkan jika seluruh jajaran kepolisian punya semangat yang sama dalam menindak kejahatan dan korupsi secepat itu, maka mungkin dengan cepat Indonesia ini akan bersih dari berbagai tindak kejahatan dan Korupsi.


Namun karena elemen masyarakat sipil dan akademisi melihat film ini sedikit fulgar dan tidak biasanya, membuat para akademisi melakukan aksi solidaritas untuk KPK.


Dikutip dalam laman Kompas.com, Minggu 22 Februari 2015 Akademisi dari Universitas Indonesia Imam Prasodjo menjadi moderator dalam pertemuan antara Wakil Kepala Polri Komjen Badrodin Haiti, dengan para akademisi dan civitas dari sejumlah perguruan tinggi, di Ruang Rapat Utama Mabes Polri.


Imam mengatakan, pertemuan tersebut digelar sebagai suatu ruang diskusi bagi calon kepala Polri dan kalangan akademisi, khususnya dalam mengembalikan hubungan baik dan sinergi antara lembaga Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Setelah masing-masing perwakilan akademisi secara bergantian menyampaikan aspirasinya, tiba gilirannya bagi Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi Waseso untuk menjadi pembicara.
Namun, sebelum memberikan kesempatan kepada Budi Waseso, Imam melontarkan sebuah pertanyaan kepada Budi.


[caption id="attachment_19597" align="alignright" width="296"]Budi Waseso images Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi Waseso[/caption]


"Kami agak takut dengan Pak Kabareskrim, apa mungkin mentersangkakan semua orang? Kami minta ada jaminan pengayoman, pengamanan dan perlindungan," ujar Imam sebelum mempersilahkan Budi untuk berbicara.


Sebagai jawaban, Budi mengatakan bahwa ia bukanlah siapa-siapa sebelum menjadi Kepala Bareskrim Polri. Menurut Budi, apa yang ia lakukan saat ini hanyalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai pejabat kepolisian.


Budi berulang kali membantah pernyataan yang menyebut ia telah melakukan upaya kriminalisasi kepada pimpinan KPK. Menurut dia, adalah tugas dan kewajiban bagi kepolisian untuk menindaklanjuti laporan dari masyarakat.


"Saya pernah di Propam Polri, pernah jadi polisinya polisi, masa sekarang di Polri jadi tidak benar. Saya jamin tidak ada kriminalisasi. Kalau ada yang jadi korban anggota saya, silahkan beritahu saya," kata Budi.


“Itulah jawaban Kabreskrim Budi Waseso”


Nah, dalam konteks KPK dan Polri dalam sebulan terakhir sepertinya apa yang terlihat dengan mata kepala ditambah dengan pengetahuan dan bagground kasus sebelumnya, terkesan sulit untuk dipercaya bila ‘tidak ada sesuatu’ dengan hadirnya sejumlah bintang film untuk keperluan melaporkan AS dan BW hingga kemudian disambar seperti tajamnya Avtur dalam penanganan dan penetapan tersangka dua pimpinan KPK Abraham Samad dan Bambang Widjayanto oleh pihak kepolisian.


Namun diakhir mungkin cocok untuk mengulang kembali ungkapan dan pertanyaan Imam Prasodjo "Kami agak takut dengan Pak Kabareskrim, apa mungkin mentersangkakan semua orang? (*/ira)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.