Header Ads

Hilangnya Nama Zawiyah Cot Kala, Faktor Lupa Atau Skenario ?

STAIN Zawiyah Cot Kala secara resmi telah menjadi IAIN menyusul keputusan Presiden tentang peningkatan status dari Sekolah tinggi STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa. Namun direlung hati kebahagian itu tergores luka yang sangat mendalam. Pasalnya nama yang sudah melekat dan memiliki sejarah panjang, justru nama itu coba ‘Dihilangkan’.



|||



Nun jauh di Jakarta sana tersiar kabar surat keputusan STAIN Cot Kala meningkat statusnya menjadi IAIN tersebar terutama dikalangan mahasiswa, alumni dan orang yang punya benang merah dengan lembaga pendidikan itu. Tak heran masyarakat dan  kalangan civitas akademika diperguruan tinggi yang lain juga ikut melumat informasi tentang peningkatan ‘kekuasaan” pendidikan yang sedang diraih Stain Zawiyah Cot Kala.



Informasi tersebut membuka kegembiraan baru, dimana secara administrasi, wewenang dan kesan peningkatan status itu menjadikan lembaga yang mulanya sekolah Tinggi ilmu agama Islam Negeri Zawiyah Cot Kala Langsa itu menjadi IAIN adalah suatu kemajuan dibidang pendidikan dikawasan Langsa, Aceh Timur dan kabupaten Aceh Tamiang.



Namun dibalik informasi yang menyejukkan hati serta jiwa tersebut, ada sedikit yang tergores dengan luka yang dalam bagi masyrakat dan sejumlah Alumni. Karena nama yang dikenal selama ini Stain Zawiyah Cot Kala, ternyata setelah statusnya meningkat nama Zawiyah Cot Kala justru hilang dan menjadi nama baru IAIN Langsa.



Fakta itu tidak sanggup dibayangkan bagaimana perihnya sebuah sejarah lahirnya lembaga pendidikan itu dimasa silam. Dimana  Zawiyah Cot Kala telah mau dan bersahaja mengikuti setiap detik dan hari perjalanan lembaga pendidikan itu yang kini berdiri dengan gedung apik di Desa Meurandeh Langsa.



Berbagai kalangan merasa teriris perasaannya dikala mendengar informasi itu, dan bila boleh diilustrasikan seakan perasaan itu tidak tahu dimana sakitnya, bila mereka mengaku sakitnya diperut sini ! tapi juga tidak,  karena setelah sakitnya disini!



Kemudian terasa menendang dan terkopprol dengan menusuk-nusuk dibagian ulu hati, meungeot-ngot lang teu-ot, kemudian jikap-kap ketempat lain, hingga meluas sakitnya keberbagai sudut.



Ujung –ujungnya pun melahirkan kontraversi baru dikalangan alumni dan masyarakat terutama yang masih menganggap bahwa sejarah masa silam cukup  layak untuk dihargai.



Karena asal muasal Zawiyah Cot Kala bukanlah kisah cinta Bang Joni dan Yusniar,  serta wacana kupi sikhan dan cang panah bak rangkang Meuria, tetapi  punya nilai sejarah panjang kebangkitan tonggak pendidikan Islam dikawasan Cot Kala pada era kerajaan Islam Peurlak dibawah pimpinan Nurul A’la.  (Cot Kala atau Bukitkala, kini masuk dalam wilayah adminitratif Desa Simpang Aneuh Kecamatan Bireum Bayeun Kabupaten Aceh Timur).



Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan para pendahulu, dengan Geucah Paya dan Geukoh bak Bangka kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan atau dayah yang dinamakan Zawiyah Cot Kala atau Dayah Cot Kala.



Kemudian berbagai ilmu pendidikan Islam diajarkan disana, tidak lain untuk tujuan meng-instal  kaset kosong ummad yang masih kosong tentang Islam, dan memperdalam serta menambah program  isi kaset kepada  santri  yang memang diciptakan sebagai  penyebar Islam.



Data Wikipedia menyebutkan Zawiyah Cot Kala Langsa adalah Zawiyah (Pondok Pesantren) tertua di Indonesia pada zaman Kesultanan Perlak abad ke 11 Masehi.



Zawiyah Cot Kala ini dibangun oleh Shaykh Abdullah Kancan dengan bantuan sultan Kerajaan Islam Peurlak yang keenam yang bernama Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat, pada awal abad ke-11 Masihi (abad kelima H).



Zawiyah Cot Kala, telah melahirkan banyak mubaligh untuk dihantar sebagai duta Islam untuk berdakwah kepada masyarakat Melayu sekitarnya dan di seluruh Nusantara yang masih belum menerima Islam. Antara contoh yang dapat dilihat Maulana Ishak, Maulana Nur al-Din (Fatahillah) dan Sunan Bonang yang menyebarkan Islam ke Jawa, Maulana Abu Bakar ke Melaka.



Selain itu, para mubaligh ini telah membina zawiyah-zawiyah lain di sekitarnya yang berperanan sama seperti zawiyah Cot Kala. Antara contoh yang dapat dilihat ialah Shaykh Jakub ke Kerajaan Pasai. Beliau telah mendirikan zawiyah Blang Peria pada era pemerintahan Sultan Nurdin Sultan al-Kamil (550-607 H/ 1155-1210 Masihi). Teungku Ampon Tuan pula merupakan utusan dari Zawiyah Cot Kala ke Kerajaan Teumiang.



Beliau membina zawiyah Batu Karang di Teumiang. Beliau menjadi Qadi al-Malik al-Adil kepada Sultan Mudia Sedia yang memerintah pada tahun 753H/1353 Masihi hingga 800H/1398 Masihi. Kerajaan Pasai dan Kerajaan Teumiang akhirnya digabungkan dengan Kerajaan Peurlak dan dikenali sebagai Kerajaan Samudera Pasai pada era pemerintahan Sultan al-Malik al-Saleh (Meurah Silu), antara tahun 1270 hingga 1297 Masihi.



Hilangnya nama besar Zawiyah Cot Kala  ini menimbulkan berbagai tanda tanya? Karena bila merujuk pada perguruan  tinggi yang lain di Aceh,  se-umpama IAIN Ar Raniry setelah ditingkatkan statusnya menjadi UIN,  tetapi mereka tetap saja memakai Ar Raniry diujungnya. Mereka masih menganggap nama Ulama besar Syeh Nuruddin Ar Raniry adalah penting dan sangat layak untuk ditambal di Universitas Islam itu. Mereka tidak menggantikan dengan nama IAIN Rukoh Darussalam,  IAIN Tanjung Seulamat atau IAIN Lampoh Ue.



Namun ada apa dengan STAIN Zawiyah Cot Kala?



Dikala ia telah menapak kaki pada tingkatan yang sedikit tinggi, justru disana terjadi –kehilangan nama dasar. Apakah dia terlalu jelek dan terlalu kuno untuk dipakai nama itu di era kekinian?



Tapi kenapa itu harus terjadi dikala nama itu telah menghantarkan sejumlah orang menjadi sarjana? Dikala nama itu telah menghantarkan orang terhormat? Dan dikala nama itu telah menghantarkan sejumlah orang mendapatkan pekerjaan  dan pendapatan?



Dan dikala lembaga itu menjadi tempat awal untuk meraih gelar, dan dikala lembaga itu menjadi tempat  mencari jati diri?



Dan dikala lembaga telah menyuburkan sifat sombong (bagi yang sombong- hai) dan dikala nama itu telah tercap bagi putra putri Aceh Timur, Langsa, dan Tamiang yang belajar disana, “bahwa saya adalah mahasiswa dan mahasiswi Cot Kala”.



Walaupun cukup banyak sudah kita bertanya, tetapi  pertanyaan ini sulit bagi kita untuk menjawabnya? Pasalnya kita hanya masyarakat yang kebetulan mendengarkan informasi dan membaca dimedia tentang isu penghilangan dan  penolakan perubahan nama itu.



Namun yang pasti mengetahui adalah bapak dan ibu panitia yang terlibat dalam melengkapi proses administrasi peningkatan status Stain Zawiyah Cot Kala menjadi IAIN, ya merekalah yang bisa menjawab !.  Kenapa tiba-tiba di SK-keluar nama IAIN Langsa, sementara Zawiyah tidak muncul disana?



Bila kita bertanya kembali, mungkinkah staf yang mengisi data di Kementerian di Jakarta salah dalam mengetik, atau malas memasukkan nama Zawiyah Cot Kala, karena mungkin nama itu tidak seindah nama artis yang selalu menghias dilayar kaca Televisi.



Atau memang sejak berkas dibawa dari Langsa ke Jakarta telah duluan terapus nama Zawiyah Cot Kala? Atau Nama Zawiyah Cot Kala tertinggal dikantong plastic, karena yang bawa berkas terlalu buru-buru untuk memburu agar Kota Langsa tidak macet, nanti akan berakibat fatal terlambat sampai di Jakarta ?



Namun itupun terasa tidak mungkin, karena ditahun tinggi 2015 ini Kota Langsa juga belum macet, sehingga alasan ini terasa kurang cocoklah. Sementara untuk tinggal didalam kantong plastic kresek juga tidak mungkin, pasalnya berkas untuk peningkatan status sebuah lembaga pendidikan yang katanya mendidik orang menjadi intelek itu tempatnya terbungkus rapi didalam map khususan yang lengkap dengan dokumen.



Jika semua tidak mungkin, bila diizinkan boleh dong kita berdiskusi, dan sambil menghayal-hayal berbagai kemungkinan?



Bila merujuk pada proses  penentuan sebuah nama, mungkin akan terjadi sebuah diskusi atau rapat, tentunya akan menimbulkan  banyak pendapat dari peserta rapat. Tidak heran jika disana ada yang berpendapat semakin pendek sebuah nama maka semakin mudah diingat dan diucapkan.



Kecenderungan pemilihan nama yang mudah diingat banyak terjadi di perusahaan jasa. Dengan nama yang pendek, dianggap  agar para pelanggan dan saat melakukan promosi lebih mudah. Setelah itu nama yang pendek dianggap menjadi faktor penentu mudahnya pengucapan.



Nah, pada bab ini yang menjadi pertanyaan adalah apakah sebelum hilang nama Zawiyah Cot Kala muncul diskusi seperti cerita diatas, seperti layaknya anggota sebuah perusahaan jasa  berkumpul untuk menamakan perusahaan jasanya?



Jelas beda kasusnya, untuk kasus ini nama Stain Zawiyah Cot Kala memang sudah ada sebelumnya. Kecuali diskusi  seperti diatas akan terjadi bukan untuk menamakan, tetapi untuk merubah nama,  memangkas nama atau ada pertemuan –pertemuan sebelumnya untuk membahas ‘mencari nama yang ideal’



Mungkin- karena ada yang anggap memasukkan kembali nama Zawiyah Cot Kala akan menambah panjang kata dan dianggap sulit dalam pengucapan? Maka IAIN Langsalah pilihan. “Biar Simban”



Bila itu alasannya,  bukan kah kita di Aceh yang pernah mengenal ejaan Arab, maka pengucapan Za-wi-dan Yah itu adalah hal yang biasa. Terlalu sumir atau rendah alasan itu, lalu apa kira-kira alasan yang lain?



Atau memang  perubahan ini akan melahirkan kebahagian bagi sekelompok orang,  seakan dengan nama baru memunculkan semangat hayalan–telah mencatat sejarah baru?.



Kita boleh-boleh saja ber-asumsi dan ber-tanya-tanya, yang pasti  belum ada keterangan resmi penyebab hilangnya nama Zawiyah Cot Kala dalam SK peningkatan status menjadi IAIN. Maka dari itu kitapun  belum tahu, apakah itu didasari faktor Lupa,Salah Ketik, Sengaja atau Skenario ?   []



Penulis adalah Imran - Journalis dan Penikmat Kopi



[gallery type="slideshow" ids="18930,18929,18926,18924,18923"]



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.