Header Ads

Gerilyawan MILF Terlibat Pertempuran Dengan Polisi Manila, 30 Orang Tewas

acehbaru.com | Manguindanao- Gerilyawan Moro Islamic Liberation Front (MILF) pemberontakan pecahan Moro National Liberation Front ( MNLF) terlibat pertempuran dengan anggota Polisi Filipina di Desa Tukanalipao, Masapano Provinsi Maguindanao.



Dalam peristiwa itu lebih 30 orang tewas, 27 diantaranya pasukan elit polisi.Dikutip dari laporan BBC pertempuran tersebut terjadi Minggu dini hari 25 Januari 2014 kemarin, saat itu sejumlah polisi masuk ke Desa Tukanalipao, Masapano Provinsi Maguindanao Filipina Selatan, untuk memburu seorang tersangka terorisme.



Desa itu dikuasai oleh kelompok Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Kedatangan poliisi mengejutkan pemberontak dan kemudian terjadi pertempuran yang berlangsung selama beberapa jam.



Setelah berlangsung pemberontakan selama puluhan tahun di Mindanao, pemerintah Filipina menandatangani kesepakatan perdamaian dengan Front Pembebasan Islam Moro untuk mengakhiri pertempuran. Langkah-langkah yang diterapkan untuk mencegah insiden seperti ini tampaknya gagal, kata wartawan BBC, Michael Bristow.



Bentrokan terbaru ini, lanjutnya, akan menguji kekuatan perjanjian perdamaian yang diteken tahun lalu. Malaysia menjadi penengah perundingan sehingga dicapai kesepakatan. Seorang pejabat, seperti dikutip kantor berita AFP, mengatakan bentrokan antara aparat dan MILF kali ini merupakan yang pertama tahun ini.



Sebagaimana diketahui Desa (Barangay) Tukanalipao, KotaMasapano berada di Propinsi Maguindanao merupakan salah satu provinsi di Filipina. Ibu kotanya ialah Shariff Aguak.



Provinsi ini terletak di Region Otonomi Muslim Mindanao. Provinsi ini memiliki luas wilayah 7.142,0 km² dengan memiliki jumlah penduduk 1.273.715 jiwa (2010). Dengan memiliki angka kepadatan penduduk 178 jiwa/km².



Barangay atau yang dulu disebut barrio di bahasa Kastilia, merupakan sebuah pembagian daerah administratif paling kecil yang dipakai di Filipina dan merupakan istilah Tagalog untuk desa atau distrik.



Sejarah pemerontakan
Kemerdekaan yang didapatkan Filipina (1946) dari Amerika Serikat ternyata tidak memiliki arti khusus bagi Bangsa Moro. Hengkangnya penjajah pertama (Amerika Serikat) dari Filipina ternyata memunculkan penjajah lainnya (pemerintah Filipina).



Namun patut dicatat, pada masa ini perjuangan Bangsa Moro memasuki babak baru dengan dibentuknya front perlawanan yang lebih terorganisir dan maju, seperti MIM, Anshar-el-Islam, MNLF, MILF, MNLF-Reformis, BMIF. Namun pada saat yang sama juga sebagai masa terpecahnya kekuatan Bangsa Moro menjadi faksi-faksi yang melemahkan perjuangan mereka secara keseluruhan.



[caption id="attachment_19249" align="alignright" width="300"]Exif_JPEG_PICTURE Suasana pasar di Cotabato kepulauan Mindanao Filipina, pasar ini dipenuhi dengan militer bersenjata. Tidak jauh dari kota sejumlah pejuang Moro Islamic Liberation Fronts (MILF) berpakain sipil berjaga-jaga dengan dibekali senapan serbu | Foto Imran/acehbaru.com[/caption]

Pada awal kemerdekaan pemerintah Filipina disibukkan dengan pemberontakan kaum komunis Hukbalahab dan Hukbong Bayan Laban Sa Hapon. Sehingga tekanan terhadap perlawanan Bangsa Moro dikurangi. Gerombolan komunis Hukbalahab ini awalnya merupakan gerakan rakyat anti penjajahan Jepang, setelah Jepang menyerah mereka mengarahkan perlawanannya ke pemerintah Filipina. Pemberontakan ini baru bisa diatasi di masa Ramon Magsaysay, menteri pertahanan pada masa pemerintahan Eipidio Qurino (1948-1953).



Tekanan semakin terasa hebat dan berat ketika Ferdinand Marcos berkuasa (1965-1986).



Dibandingkan dengan masa pemerintahan semua presiden Filipina dari Jose Rizal sampai Fidel Ramos maka masa pemerintahan Ferdinand Marcos merupakan masa pemerintahan paling represif bagi Bangsa Moro. Pembentukan Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan Moro Liberation Front (MLF) pada 1971 tak bisa dilepaskan dari sikap politik Marcos yang lebih dikenal dengan Presidential Proclamation No. 1081 itu.



Perkembangan berikutnya kita semua tahu. MLF sebagai induk perjuangan Bangsa Moro akhirnya terpecah. Pertama, Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari yang berideologikan nasionalis-sekuler. Kedua, Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim, seorang ulama pejuang, yang murni berideologikan Islam dan bercita-cita mendirikan negara Islam di Filipina Selatan.



[caption id="attachment_19248" align="alignright" width="300"]Exif_JPEG_PICTURE Ini salah angkutan tradisional yang digunakan masyarakat di Cotabato City Kepulauan Mindanao. Cotabato atau Kuta Batu salah satu daerah yang dikuasai pemberontak MILF, terpaut puluhan kilo meter dari tempat ini berdiri Camp besar Militer Pejuang MILF. | Foto Istimewa/acehbaru.com[/caption]

Namun dalam perjalanannya, ternyata MNLF pimpinan Nur Misuari mengalami perpecahan kembali menjadi kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abdurrazak Janjalani (1993). Tentu saja perpecahan ini memperlemah perjuangan Bangsa Moro secara keseluruhan dan memperkuat posisi pemerintah Filipina dalam menghadapi Bangsa Moro.



Ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara Nur Misuari (ketua MNLF) dengan Fidel Ramos (Presiden Filipina) pada 30 Agustus 1996 di Istana Merdeka Jakarta lebih menunjukkan ketidaksepakatan Bangsa Moro dalam menyelesaikan konflik yang telah memasuki 2 dasawarsa itu. Disatu pihak mereka menghendaki diselesaikannya konflik dengan cara diplomatik (diwakili oleh MNLF), sementara pihak lainnya menghendaki perjuangan bersenjata/jihad (diwakili oleh MILF). | IRA|

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.