Header Ads

Lama Tak Muncul Dimedia, Wali Nanggroe Muncul Dengan Selempang Bergaris Hijau Kuning Hijau

acehbaru.com | Banda Aceh - Setelah lama tidak muncul dimedia Wali nanggroe Malik Mahmud Al Haytar muncul dengan menggunakan jas adat aceh warna hitam yang dipadukan dengan selempang yang bergaris kuning hijau, mendampingi Wakil presiden Jusuf Kalla pada acara  memperingati bencana besar tsunami yang terjadi di Provinsi Aceh sepuluh tahun lalu. Peringatan berlangsung syahdu dengan iringan doa. Bencana tersebut menyisakan sejumlah pelajaran penting bagi bangsa Indonesia. Jumat 26 Desember 2014



Diberitakan Kompas.com Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengatakan, peringatan tsunami digelar untuk menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran yang berharga. Bencana tersebut memberikan kesempatan refleksi bagi semua pihak agar sadar dengan bencana. ”Bencana ini bukan yang pertama terjadi, melainkan pernah terjadi sebelumnya di Simeuleu,” kata Zaini saat berpidato di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Jumat (26/12) pagi. Saat ini pun bencana masih mendera Aceh, yaitu banjir di Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Bieureun.



”Bencana itu juga membangkitkan kepedulian dunia internasional untuk membantu Aceh. Semangat rakyat Aceh yang nyaris habis ketika itu kembali membubung tinggi,” kata Zaini.



Atas kepedulian itu, rakyat Aceh melalui Wali Nanggroe Malik Mahmud dan Gubernur Aceh Zaini Abdullah memberikan penghargaan tertinggi untuk 35 negara sahabat. Penghargaan itu diberikan atas jasa mereka dalam membantu rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca tsunami. Adapun nama penghargaan itu adalah Sri Paduka Tuan Seberang dan Pakuta Alam.



Zaini mengatakan, kehadiran negara-negara sahabat memberikan semangat kepada rakyat Aceh. Rakyat Aceh merasa tidak sendirian menghadapi bencana besar itu. Bencana itu juga menyadarkan agar pemangku kepentingan tetap menjaga lingkungan. Hal ini pula yang membuat Pemerintah Aceh memasukkan isu lingkungan sebagai program utama pembangunan.



Peringatan sepuluh tahun bencana tsunami di Aceh dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri Kabinet Kerja, antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Energi Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.



Acara diawali dengan tabur bunga di Kuburan Massal Siron, Banda Aceh. Di tempat tersebut, Kalla, Zaini, dan semua yang hadir memanjatkan doa untuk korban tsunami. Kalla datang bersama Ibu Mufidah Kalla didampingi Gubernur Aceh dan Ibu Niazah Zaini Abdullah. Acara lalu dilanjutkan di Lapangan Blang Padang mulai pukul 09.00 hingga pukul 10.45.



Di tempat ini, panitia menayangkan tayangan video seputar bencana yang terjadi ketika itu. Acara juga diisi penampilan seniman Raffi dan penyair Taufik Ismail yang membuat suasana semakin sahdu. Beberapa hadirin menitikkan air mata ketika penayangan video tersebut. Kalla termasuk yang meneteskan air mata ketika peringatan sepuluh tahun tsunami Aceh. Menurut Kalla, kesedihan akibat bencana itu sulit dilupakan. Kepedulian yang muncul setelah bencana terjadi juga luar biasa besarnya dari dalam maupun luar negeri.



Tsunami Aceh terjadi pada 26 Desember 2004, dipicu gempa bumi berkekuatan 9,3 skala Richter. Dalam catatan Kalla, sekitar 200.000 orang meninggal karena peristiwa ini. Pemerintah Indonesia membutuhkan Rp 30 triliun untuk merekonstruksi Aceh. Tsunami, tulis Kalla, dianggap sebagai bencana sekaligus hikmah bagi bangsa Indonesia.



Bencana ini membangkitkan solidaritas dan empati kepada sesama anak negeri. Bersamaan dengan selesainya masa tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi Aceh, dicapai pula kesepakatan perdamaian antara RI dan pihak Gerakan Aceh Merdeka. Kesepakatan itu tercapai kurang dari setahun bencana tsunami, yaitu 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.



”Sepertinya persatuan kita semakin kuat ketika sedih dibanding saat senang. Karena itu, mari kita jaga terus persatuan bersama,” kata Kalla. Setelah shalat Jumat, Kalla meninjau Pameran Kebencanaan dan melihat Museum Tsunami Aceh. Sekitar pukul 15.30, Kalla akan menghadiri peluncuran buku Ombak Perdamaian; Inisiatif dan Peran JK Mendamaikan Aceh yang ditulis oleh Fenty Effendy. | IRV | sumber KOMPAS

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.