Header Ads

Markas Gambit Digrebek Polisi, Pistol Rakitan Disita. Ini Kisahnya ?

acehbaru.com | Aceh Timur – Syukriadi alias Gambit yang katanya memiliki senjata api dan terlibat berbagai tindakan criminal diburu polisi gabungan. Selasa, 4 November 2014. Polisi hanya menemukan satu pucuk senjata rakitan, dan belum berhasil menangkap Gambit. Selasa 4 November 2014



Berdasarkan informasi yang diterima redaksi acehbaru.com polisi gabungan dari  Polres Aceh Timurdan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh diback-up Brimob Subden-2B Aramiah itu menyisir kawasan, Kemukiman Paya Meuligoe, Peureulak dan menggrebek sebuah rumah yang diduga tempat persembunyian Gambit, namun Polisi tidak berhasil menemukan Gambit ditempat tersebut.



Polisi kembali melakukan penyisiran dan melakukan penggrebekan sebuah  pondok  yang diduga tempat Gambit sering menginap bersama kelompoknya, nah disini polisi  hanya menemukan satu pucuk senjata api rakitan jenis pistol yang terselip diatap gubuk.



Komandan Kompi (Danki) Brimob Subden-2B Aramiah, Inspektur Satu Wahyudi, S.H. yang dikonfirmasi acehbaru.com membenarkan adanya penggrebekan itu. “Satu pucuk senjata rakitan ditemukan,” katanya.



Siapa Gambit ?



Gambit adalah mantan GAM Combatan GAM wilayah Peureulak Aceh Timur, namanya heboh era tahun 2011 setelah beberapa aksi kriminalnya terhadap mantan pejuang GAM yang sudah menempati posisi di Pemerintahan. Gambit saat itu mengaku melakukan itu semata-mata untuk menuntut keadilan.



[caption id="attachment_18105" align="alignright" width="300"]GAMBIT (2) Senjata pistol rakitan sitaan tim gabungan Polisi dari Polres Aceh timur, Subden 2 B Brimob Aramiah dan Tim Polda Aceh dalam penyisiran tempat persembunyian Gambit DPO kasus kriminal di Aceh Timur, Selasa 4 November 2014[/caption]

“Apa yang saya lakukan semata-mata untuk menuntut keadilan bagi mantan kombatan GAM, korban konflik, anak yatim, dan janda korban perang,” Begitu pernyataan Gambit priode September 2011 lalu.



Akibat aksinya pada tahun 2011 itu, pada Sabtu 6 agustus 2011 polisi Aceh Timur sempat terlibat kontak tembak dengan kelompok Gambit yang saat itu berjumlah 6 orang di Desa Blang Batee, Kecamatan Peureulak Kota, Aceh Timur. Namun, Gambit yang telah masuk DPO polisi lolos dari penyergapan.



Kiprah GAM bit yang mengaku mantan GAM sempat membuat saklit gigi petinggi organisasi mantan GAM (KPA). Malah organisasi ini saat itu meragukan kiprah Gambit dimasa GAM masih memberontak. Namun pria yang memiliki tubuh tegap dan mepingkom bate itu langsung membantah pernyataan itu. “Dua Peluru di Tubuh Saya”



Benar adanya, acehbaru.com yang sempat dijamu buka puasa oleh Gambit melihat langsung bekas luka terkena peluru di bagian bahu kanan dan paha kanan.



“Ini saya kena saat turun untuk mencari logistic untuk pasukan, ternyata saat saya kembali di bukit yang tadinya pasukan GAM beristirahat, sudah di penuhi tentara, dalam jarak dekat saya ditembak dan saya pikir ajal telah menjemput saya saat itu, tapi saya lari sekuat tenaga dan Alhamdulilah saya selamat,” Katanya kepada acehbaru.com



[caption id="attachment_18106" align="alignright" width="300"]Gambit DPO Foto daftar pencarian orang (DPO) yang disebar polisi disetiap Polsek di kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa. Dalam Gambar tersebut terlihat nama Gambit, Samsul alias Uteun, Nurdin Minimi, dan Bahrum Alias Raja Rimba[/caption]

Saat itu Gambit juga mengisahkan perubahan sikapnya seperti itu bukan tidak ada alasan. Katanya setelah turun gunung 2005 silam ia hidup sangat memprihatinkan, namun ia bersabar dengan bekerja sebagai buruh bangunan dan buruh bongkar muat didesanya. Namun pekerjaan itu terpaksa ditinggalkan setelah luka tembakan dibagian kakinya kembali bengkak dan sekujur kakinya membiru.



Namun apa yang terjadi, tidak ada yang menolongnya terutama petinggi mantan pejuang. Akhirnya keluarganya membawanya ke sebuah rumah sakit di Kota Langsa. Dalam perobatan itu tidak satupun petinggi GAM yang menjenguknya, hingga keluar kata-kata dari seorang sahabatnya. “ Kamu Gambit,  Membengkak kakimu bukan karena jatuh dari pohon bambu (Bengkak Gaki Kah kon gara-gara Rheout Keuh wate kajak koh tring)



“Kata–kata itu cukup menyakitkan dan memalukan," Katanya sambil mencuci tangan usai berbuka untuk memburu mengambil wudhuk guna melaksanakan shalat Maggrib (Bersambung ke kisah Gambit berikutnya) | IRA | FIQ|



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.