Header Ads

Hari Pahlawan, “Seperti Kacang Lupa pada Kulitnya”

acehbaru.com | Lhokseumawe - Berbagai macam tanggapan mahasiswa asal Kota Lhokseumawe, Bireuen dan Aceh Timur saat wartawan acehbaru.com menanyakan makna hari pahlawan yang jatuh pada setiap 10 Nopember di tahun 2014. Di antaranya mereka mengatakan, para veteran atau pejuang kemerdekaan yang masih hidup saat ini di masa tuanya tak dihargai oleh negeri ini terlebih pemerintah. Kehidupan mereka miris dan memperihatinkan.



“Gimana yaa…? Ibaratnya seperti kacang lupa pada kulitnya. Nama aja pahlawan,” Kata Fedriansyah, salah seorang mahasiswa di Lhokseumawe.



“Iya, hari ini memang hari pahlawan, siapa bilang bukan hari pahlawan. Cuma para pejuang seperti diabaikan,” tambahnya.



Padahal, dalam Undang-undang No. 7 Tahun 1967 negara harus memberikan penghargaan kepada mereka yang telah menyumbangkan tenaganya atas dasar sukarela dalam ikatan kesatuan baik resmi maupun kelaskaran dalam memperjuangkan, membela dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.



Namun, apa yang terjadi sekarang terhadap para pera pejuang kemerdekaan negeri ini tak sehangat kalimat-kalimat yang tertuang dalam Undang-undang tersebut. Para veteran banyak hidup melarat. Mereka banyak ditemui dijalanan, menjadi penyemir sepatu bahkan pemungut sampah bahkan.



Oleh karenanya, tak jarang pula warga yang mengetahui perlakuan negara Amerika terhadap pejuang veterannya membandingkan dengan perlakuan negeri ini terhadap veterannya. Di negeri Paman Sam tersebut para pejuang kemerdekaan yang masih hidup benar-benar diperlakukan bagaikan pahalawan. Mereka diberikan fasilitas hidup yang cukup memadai di masa senjanya itu.



“Jaman sekarang yang dihargai hanya orang-orang yang banyak uang. Kalau para pejuang kemerdekaan tak dihargai lagi. Mereka sudah tua. Yaa.. hanya sekedar dihormati gitu aja,” uangka Syira, mahasiswi asal Aceh Timur.



Hal senada juga diungkapkan Putri, mahasiswi asal Bireuen. Menurutnya pun bukan pemerintah saja yang tidak memperhatikan nasib veteran. Tapi termasuk generasi saat ini.



“Hari pahlawan, ya hari pahlawan. Nggak ada sesuatu yang dihargai dari mereka yang telah memperjuangkan negeri ini,” ujarnya.



Dia mengatakan, jika memang bangsa ini ingin menghargai para pejuang kemerdekaan, tidak usah jauh-jauh. Cukup mempelajari hal-hal yang bermanfaat dari mereka.



“Mereka bisa bahasa Belanda. Mereka bias bahasa Jepang. Ini hal kecil yang bisa dipelajari dari mereka (veteran). Tapi bisa kita lihat itu tidak ada pada generasi sekarang,” paparnya tegas.



Miris memang ketika melihat realita yang terjadi terhadap orang-orang yang rela mati untuk negeri ini, meski pepatah “Bukankankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya” acap kali diperdengungkan.



Seandainya saja para pejuang itu benar-benar dihargai negeri ini, bukan hidup mereka saja yang menjadi lebih berarti, tapi mereka juga merasa lebih berarti di mata generasi saat ini bila saja hal-hal teladan diambil dari para pejuang kemerdekan Republik Indonesia itu. | AMI |

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.