Header Ads

Ceria Bersama Mualem

Cuaca terik yang menyelimuti Babul Makmur tak menyurutkan langkah Wakil Gubernur Muzakkir Manaf berinteraksi dengan warga di Aceh Tenggara. Ada cerita menarik dalam kunjungan kerja pria yang sering disapa Mualem itu, Senin, 17 November 2014.



Mulai dari korban bencana banjir bandang yang ber-horas-horas ria, bapak-bapak yang menangis karena lahan coklatnya di musnahkan pihak Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), hingga ibu-ibu yang tertawa lepas dan berfoto ria bersama mantan Panglima GAM tersebut.



Peristiwa pertama terjadi ketika Mualem meninjau korban bencana banjir bandang di Desa Lawe Perbunga, Babul Makmur. Di sana ada 42 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban. Penduduk di daerah perbatasan itu yang umumnya warga Batak menyambut Wagub dengan sapaan horas  dan horas.



Usai Bupati Aceh Tenggara H Hasanuddin BB MM menyampaikan sambutan, giliran Mualem yang menyampaikan sepatah dua kata. Di daerah dengan penduduk mayoritas non muslim itu Mualem mengawali pidato dengan kata-kata horas dan horas yang dijawab serentak oleh ibu-ibu dan babak-bapak korban bencana dengan kata yang sama. Seorang ibu di kursi bagian belakang tenda bercelutuk dengan logat Batak kepada kawannya. “Itu ya Wagub, ganteng kali ya.”



Dalam sambutannya Wagub mengatakan, bencana merupakan ujian dari Tuhan untuk mempertebal keimanan hambanya. Masyarakat tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan, Pemerintah Aceh akan membantu, baik kebutuhan masa panik, maupun membangun hunian sementara bagi korban.  



Interaksi dengan warga perbatasan itu semakin harmonis ketika Mualem hendak menyerahan bantuan kepada para korban. Karena ramainya masyarakat yang menyaksikan kedatangan Wagub ke sana, jalan jadi macet, bantuan yang hendak diserahkan belum juga tiba. Bupati Hasanuddin kemudian mengambil mikrofon dan bernyanyi dalam bahasa Batak. Warga ikut bernyanyi dengan riang dan terus ber-horas-horas  ria.



Di jalan di antara kemacetan, polisi pamong praja berlarian kearah tenda sambil membawa kotak bantuan di atas pundaknya. Mereka tampak terengah-engah ketika sampai ke tenda. Mualem bersama Kepala Dinas Sosial Aceh  Bukhari dan Bupati Hasanuddin kemudian menyerahkan bantuan secara simbolis kepada masyarakat setempat. Dalam kunjungan itu Mualem menyerahkan bantuan 1000 paket sembako ke pada korban bencana di Aceh Tenggara.



Bukan hanya di situ saja, peristiwa miris dan kocak kembali terjadi ketika Mualem meninjau lokasi peternakan di Desa Lawe Loning. Sepanjang lorong menuju lokasi peternakan anak-anak TK berbaris  menyalami Wagub. Sementara sampai ke kandang tempat penggemukan kambing dan sapi, dengan cekatan anak-anak TK memainkan alat musim sederhana. Mereka menyambut Mualem dengan irama tembang “bungong jeumpa”



Ketua kelompok penggemukan ternak di desa itu mengeluh kekurangan kandang, mereka butuh dua kandang ukuran 10 x 70 meter untuk peternakan. “Lahannya sudah ada Pak, kami hanya butuh kandang saja. Kalau sekarang kandang kami terpencar di beberapa titik, kami ingin dibangun yang representatif,” pintanya.



Menjawab itu Bupati Hasanuddin yang duduk di samping Mualem meminta agar dibuatkan usulan kepada pemerintah, pemerintah akan membantu apalagi sudah ada lahan.



Di sela-sela itu, seorang pria paruh baya muncul dari belakang dan langsung berdiri di hadapan Mualem. “Pak, saya ingin  menyampaikan keluhan warga di sini Pak,” katanya. Suara pria itu nampak serak, ia berusaha menahan tangis.



Mualem mempersilahkannya. Interaksi Mualem dengan warga itu berlangsung penuh keakraban. Masyarakat berjejer di depan Wagub, jaraknya tak sampai satu meter. Setelah menahan nafas berkali-kali, bapak itu kemudian menyampaikan uneg-unegnya tentang tanaman coklat mereka yang dipotong pihak TNGL. Ia berharap Mualem mencari solusi menyelesaikan sengketa warga dengan pihak TNGL.



“Kami di sini tak punya lahan, makanya kami buka lahan di sana. Setelah ada kebun dan berkembang kami bisa menyekolahkan anak-anak kami ke universitas, tapi sekarang dipotong oleh TNGL. Kami tak punya lagi penghasilan, kami bisa jadi pencuri. Dulu ketika ada kebun itu tak ada lagi pencurian di desa kami,” ungkap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Pria itu kemudian melanjutkan. “Pak, tolonglah kami, kemana lagi kami mengadu kalau bukan kepada Mualem sebagai pemimpin kami.”



Menjawab keluhan itu, Mualem mengatakan Pemerintah Aceh  akan mencari jalan tengah, solusi terbaik untuk mengakhiri sengketa petani dengan TNGL. Sementara Bupati Hasanuddin mengatakan, sengketa dengan TNGL bukan hanya antara masyarakat tani desa Lawe Loning saja, tapi juga petani di tiga kecamatan. Hasanuddi  menegaskan bahwa pemerintah akan tetap berpihak kepada masyarakat dalam menyelesaikan sengketa tersebut.



Usai itu, giliran ibu-ibu PKK yang menyampaikan keluhan. Seorang perempuan  memperkenalkan  dengan nama Siti Zahara. Ia maju dan berdiri di depan Wagub, jaraknya hanya sekitar setengah meter. “Pak Mualem ngon bahsa Aceh mantong beh, tanyoe ureung Aceh,” katanya dengan tersenyum. Mualem mengangguk.



Perempuan berkulit sawo matang itu pun menyampaikan uneg-unengnya. Ia mengingkan adanya bantuan dari pemerintah untuk kelompok ibu-ibu di desa itu. Permintannya sangat sederhana, hanya sedikit modal untuk usaha kecil kaum perempuan desa, serta diberikan beberapa alat masak dan barang pecah belah untuk kebutuhan warga bila ada kenduri di kampung.



Perempuan itu terus berbicara dalam bahasa Aceh yang kental, sesekali ia tersenyum. Mualem kemudian bangkit dari duduknya. “Bantuan hana long me, ka keu korban banjir bandang, peng jeut?” tanya Mualem. Siti Zahara tersenyum mengangkuk. Tiba-tiba ia berkata. “Bek trep-trep that neudong di keu long Mualem, droe neuh ganteng that.”



Mendengar itu para pejabat yang menyertai Mualem dan masyarakat Lawe Loning tertawa terbahak-bahak. Paling keras tertawa Prof Abubakar Karim Kepala Bappeda Aceh.  Bupati Hasanuddin juga tak mampu menahan tawanya. Sementara Siti Zahara memegang kedua pipinya dengan kedua tangannya, ia terus menatap wajah Mualem.



Dari arah kiri Mualem kemudian muncul ajudannya menyerahkan segepok  uang. Mualem kemudian menyerahkan dana sebesar Rp10 juta itu untuk sebagai bantuan untuk kelompok ibu-ibu di desa tersebut.



Hal yang sama juga terjadi ketika sore hari Mualem meninjau kolam Balai Benih Ikan (BBI) Lawe Bekung. Usai Mualem berpidato dan meninjau kolam, puluhan perempuan muda, ibu-ibu dan para gadis bergantian berfoto ria bersama Mualem. Orang nomor dua di Aceh itu terlihat kwalahan, apalagi ketika beberapa pemuda berpakaian dinas juga minta foto bareng.



Para ibu-ibu muda dan gadis itu saling tersenyum melihat foto bersama Mualem di telepon selulernya. Beberapa orang dari rombongan Wagub memperhatikan tingkah mereka. Ada yang kikuk dan malu-malu, ada juga yang dengan spontan berkata. “Mualem idola kami pak, jadi senenglah bisa berfoto.”



Mendengar itu tiba-tiba seorang pegawai BBI beujar. “Ya, tapi jangan sampai ada yang cemburu nanti di rumah, jangan sampai rebut sama suami gara-gara foto selfi dengan Mualem,” ujarnya sambil berlalu. Para ibu-ibu itu masih tetap saja dengan senyum-senyumnya. |Sumber Humas Aceh|

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.