Header Ads

Allan Nairn Buka Nama Pejabat Terlibat Pembunuhan Munir

acehbaru.com | Jakarta - Jurnalis investigasi asal Amerika Serikat, Allan Nairn, kembali menarik perhatian publik. Kali ini Allan mengeluarkan pernyataan bahwa As'ad Said Ali, bekas Wakil Kepala Badan Intelijen Negara, dan Sjafrie Sjamsoeddin, bekas Wakil Menteri Pertahanan, tidak layak menjadi Kepala Badan Intelijen Negara.



"Keduanya terlibat pembunuhan terhadap warga sipil," kata Allan setelah memberikan keterangan di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Senin, 3 November 2014.



Allan menarik perhatian publik ketika pada Juni lalu mengungkapkan wawancara off the record dengan Prabowo Subianto di blognya. Saat itu Prabowo sedang maju sebagai kandidat presiden rival Joko Widodo.



Menurut Allan, As'ad bercerita bahwa, sebagai bekas Wakil Kepala Badan Intelijen Negara, dia bertanggung jawab atas kematian aktivis Munir. Cerita ini muncul dalam wawancara yang dilakukan Allan kepada As'ad.



As'ad bertanggung jawab lantaran memegang komando nomor dua di Badan Intelijen Negara. "Langsung di bawah A.M. Hendropriyono," kata Allan. Allan mengatakan investigasi yang dilakukan kepolisian, tim pencari fakta pembunuhan Munir, serta aktivis hak asasi manusia yang mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan menunjukkan banyaknya bukti spesifik atas peran As'ad.



Sedangkan Sjafrie, kata Allan, terlibat dalam kasus penembakan mahasiswa di Semanggi pada 1998, operasi militer di Aceh, dan pembunuhan massal di Timor Timur pada 1999.



Ihwal Fahcrul Rozi, kandidat Kepala BIN lainnya, Allan Nairn mengaku tidak mengikuti rekam jejaknya. Allan mengatakan, kalau Jokowi bisa menolak orang yang terkait dengan korupsi yang disebut oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, "Bagaimana dia bisa menerima calon yang terkait kejahatan lebih buruk lagi, yakni pembunuhan orang sipil?"



Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia Tedjo Edhy Purdijatno mengaku daftar calon kepala Badan Intelijen Negara mengerucut pada tiga nama, yaitu Sjafrie Sjamsoeddin, Fachrul Rozy, dan As'ad Said Ali.



"Yang menguat memang tiga nama ini. Tapi bisa saja hilang semua, lalu muncul yang lain lagi," kata Tedjo. | IRV | Sumber TEMPO 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.