Header Ads

Yulisa Turrahmi, Mahasiswi Kreatif yang Ingin jadi Pengusaha



acehbaru.com | Aceh Utara - Siang itu, seorang gadis berkulit putih diselimuti pakaian layaknya seorang muslimah tampak sedang menikmati santap siang bersama kawannya di salah-satu kantin di lingkungan Universitas Malikussaleh (Unimal), Aceh Utara, Selasa 21 Oktober 2014. Kantin itu terasa riuh dipenuhi mahasiswa dikarenakan bertepatan dengan jam makan siang.


Senyum sumringah gadis yang lahir 21 tahun lalu di Labuhan Haji, Aceh Selatan ini menyambut kedatangan wartawan acehbaru.com yang ingin bertanya-tanya tentangnya sebagai mahasiswa dan juga sebagai pengrajin aneka aksesoris.


Yulisa Turrahmi namanya. Ia merupakan salah-seorang mahasiswi fakultas teknik universitas setempat yang berada pada semester akhir, dan saat ini tengah disibukkan dengan skripsi. Namun, dibalik kesibukannya tersebut, ia menyempatkan diri dengan berbagai kreatifitas. Di antaranya, memanfaatkan kotak bekas untuk membuat boks pensil atau bolpoin. Sementara untuk membuat aksesoris seperti sarung telepon seluler, bros dan tas  laptop diantaranya berkomposisi kain flanel.


“Bahannya ya sederhana saja, dari kain flanel serta kotak bekas. Namun mendesainnya menggunakan tangan, termasuk pembuatan motifnya. Ya...! terkadang ada juga yang request untuk pembuatan nama atau hal lain, sesuai dengan keinginan peminat,” Kata gadis yang akrab disapa Lisa ini.


Keahliannya sebagai pengrajin aneka aksesoris, sebut anak pertama dari tiga bersaudara itu, didapat dari sahabatnya, Nurul Ulfa, seorang gadis berusia 20 tahun yang tinggal di Batuphat, Kota Lhokseumawe. Lisa bisa kenal dengan Ulfa dikarenakan memilih daerah Batuphat sebagai tempat ngekos. “Lisa belajar sama dia, namun ada juga dapat tutorial dari internet,” Sebut Lisa.


Sejumla hasil karya Lisa tersebut yang telah dimulai sejak delapan bulan yang lalu itu kini dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 5 ribu hinga mencapai Rp35 ribu. Tergantung ukuran dan motif.


Ditanya berapa banyak jumlah produksi dan terjual setiap bulannya, Lisa menjawab, tidak ada kepastian tentang hal itu dikarenakan tergantung pesanan. “Itu tergantung pesanan. Kalau saja pesanan banyak, ya jumlah terjualnya juga banyak dan harus kerja ekstra,” ujarnya.


Lisa menjelaskan, hasil kerajinannya itu biasanya dipesan oleh mahasiswa dan mahasiswi Unimal terlebih yang kenal dekat dengannya. Ia mempromosikannya melalui situs jejaring sosial dan dibantu oleh sahabat-sahabatnya serta melalui kegiatan-kegiatan kampus.


Dari hasil jahitan tangannya itu, kini Lisa mampu membantu meringankan beban orangtuanya. “Walaupun saya tak mampu membiayai kuliah sepenuhnya, ya pokoknya saya bersyukur bisa meringankan beban mereka. Dan setelah tamat kuliah nanti, saya bercita-cita menjadi seorang pengusaha sukses,” harapnya sembari tersenyum. | AMI |




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.