Header Ads

Tantangan Relawan Advokasi

acehbaru.com - Tentu, setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang akan menimbulkan berbagai macam respons dari orang lain. Tindakan pasif sekalipun, misalnya tidur yang berlebihan anda akan dikatakan pemalas. Apalagi jikalau tindakan tersebut berupa tindakan aktif yang dinilai kontroversial. Apalagi jikalau tindakan tersebut berupa advokasi atas ketimpangan yang dilakukan oleh pemerintahan sebagai penguasa zalim. Pasti akan dinilai atau “dibikin” menjadi kontroversial. Bahkan penilaian kontroversial itu adalah hasil dari sebuah respons. Sungguh, penilaian oleh orang-orang sangat relatif dan subjektif tergantung pada sudut pandang, kedudukan, kepentingan, dan kemampuannya dalam memandang. Masalah sebenarnya bukan terletak pada penilaian orang lain, tetapi pada tindakan itu sendiri apakah di dasarkan pada nilai atau tidak. Jadi tidak perlu lari dari respons dan penilaian —karena itu tidak akan mungkin dilakukan— melainkan berdiri tegak dan bergerak maju untuk mempertahankan tindakan sebagai suatu nilai kebenaran.



Menjadi relawan advokasi sangat rentan terhadap berbagai macam respons yang melahirkan berbagai macam penilaian. Bahkan sampai kepada penilaian yang tidak bernilai. Secara umum, terhadap segala tindakan selalu melahirkan tiga macam respons yaitu pro, kontra, dan netral, yang masing-masing diwakili oleh kelompok-kelompok. Sedikit lebih rumit, terhadap relawan advokasi dan upaya-upayanya, ketiga macam respons tersebut, masing-masing berkembang dalam beberapa varian.



Pertama, kelompok pro dan aktif memberikan dukungan baik secara moril maupun materiil. Bahkan kelompok pertama ini bersedia bergabung ke dalam relawan advokasi untuk “berdarah-darah” membela kebenaran. Kedua, kelompok pro dan pasif yang hanya memberikan dukungan moril. Pada prinsipnya, kedua kelompok ini sangat mendukung relawan advokasi dan kegiatannya, akan tetapi pada kelompok yang kedua mungkin terdapat “keterbatasan” sehingga tidak mampu bersikap aktif. Hal positif yang dapat diasumsikan dari kelompok kedua adalah adanya “penglihatan” dan “pendengaran” yang baik serta kejernihan dalam berpikir, ditambah nurani yang hidup dan sadar. Meskipun kelompok kedua ini pada tahap awal hanya bersikap pasif, tetapi ada harapan sewaktu-waktu, tatkala “keterbatasan” itu enyah, maka berubah menjadi kelompok pertama.



Ketiga, kelompok kontra yang bertabrakan langsung dengan upaya relawan advokasi. Kelompok ini dapat dikatakan sebagai musuh. Ini adalah konsekuensi logis. Setiap orang yang merasa “periuknya” terganggu oleh upaya advokasi, tentu akan memberikan respons yang sangat kontra. Tidak peduli apakah “periuk” itu haram atau halal. Pencuri yang telah mencuri kemudian tepergok, jarang sekali atau bahkan tidak ada yang langsung insaf dan minta maaf serta bertobat. Sebaliknya pencuri yang dalam “kondisi genting dan memaksa” itu akan memberikan perlawanan secara membabi buta terhadap orang yang memergokinya. Kalau perlu, bahkan menyerang nyawa orang yang memergokinya itu. Ini adalah kondisi real yang dialami oleh sahabat-sahabat relawan advokasi, baik dalam masa konflik maupun dalam masa yang tidak sebenar-benarnya aman. Keempat, kelompok kontra yang karena faktor interest bersinggungan dengan upaya relawan advokasi. Meskipun upaya advokasi pada dasarnya tidak ditujukan kepada perbuatan kelompok ini, tetapi justru kelompok ini menampilkan dirinya sebagai musuh dari relawan advokasi karena sebenarnya juga merasa “periuknya” terusik oleh upaya relawan advokasi. Jika kelompok ketiga adalah musuh primer, maka kelompok empat ini adalah musuh sekunder. Sebagai musuh sekunder, resistensi yang diberikan oleh kelompok ini sering berupa statement-statement yang tendensius, melakukan propaganda negatif, dan pemutarbalikan fakta. Bahkan terkadang tampil dalam topeng hipokrit yakni mencari alasan lain untuk menutupi alasan “periuk”. Konsisten dengan sikap hipokritnya, adakalanya kelompok ini akan bersikap mengikuti iklim sehingga dalam situasi dan kondisi tertentu dapat berubah menjadi pragmatis atau oportunis. Tapi sebelum itu, sebagai “kesuksesan” dari statement-statement yang tendensius, propaganda negatif, dan pemutarbalikan fakta yang “gigih” dilakukan, maka lahirlah kelompok kelima. Kelompok kelima dapat dikatakan mengalami “sedikit masalah” dengan penglihatannya, pendengarannya, pemikirannya, dan mungkin juga nuraninya sehingga mudah sekali menjadi korban dari kelompok keempat. Ibarat orang yang sistem imunnya lemah maka sangat mudah terserang virus atau bakteri jahat. Sebenarnya hal ini dapat diantisipasi dengan menggunakan masker dalam ibarat serangan virus, atau tabayyun dalam arti yang sebenarnya. Tapi apalah dikata jika memang pemikirannya tidak sampai pada menyadari perlunya masker, atau bahkan menolak menggunakannya karena alasan malas dan sebagainya.



Keenam adalah kelompok netral yang dipengaruhi oleh sifat individualistis yang secara tidak sengaja diwarisi dari orang-orang liberal yang bukan nenek moyangnya. Kelompok ini selalu tidak peduli pada masalah sosial dan ketimpangan, selama haknya atau orang yang paling dicintainya, menurutnya tidak terusik. Ketujuh adalah kelompok netral yang benar-benar awam dan tidak berdaya. Kondisi awam dan ketidakberdayaan mereka kemudian memunculkan sikap skeptis, apatis, atau bahkan pesimistis terhadap upaya relawan advokasi. Tidak ada yang salah pada kelompok terakhir ini, karena yang salah adalah sistem yang telah membentuk watak dan menjatuhkan mental mereka.



Klasifikasi di atas bukanlah harapan dari sebuah keinginan, melainkan realita yang harus dimaklumi oleh relawan advokasi. Kelompok kontra dan netral merupakan musuh dari nilai-nilai kebenaran dan kebaikan sekaligus merupakan tantangan bagi relawan advokasi. Strategi yang paling baik untuk menghadapi tantangan itu adalah meyakinkan semua kelompok bahwa ketimpangan adalah musuh bersama (common enemy) yang harus dilenyapkan. Jika strategi yang paling baik itu gagal dilakukan, maka sekurang-kurangnya empat atau tiga kelompok terakhir harus disadarkan. Strategi ini sejatinya adalah integratif dengan upaya dan tujuan advokasi yang lebih luas dan masih dalam konteks berdiri tegak dan bergerak maju mempertahankan nilai-nilai kebenaran. Memang, tantangan adalah pekerjaan yang tidak mudah untuk diselesaikan, tetapi bukan pula tidak mungkin! | TM |



Penulis: Armia, S.H., (Alumnus Fakultas HukumUniversitas Malikussaleh, Lhokseumawe). Saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, dan juga Aktivis Gerakan Persatuan Mahasiswa Nisam (GAPMAN)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.