Header Ads

Statuta Tipu-tipu hingga Logo Baru Unimal versi Pengamat Teroris Ditolak

acehbaru.com | Lhokseumawe - Perubahan logo Universitas Malikussaleh  yang beralamat di Jalan Medan – Banda Aceh Cot Tgk Nie, Reuleut Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, ternyata terus dijalani meskipun tidak melibatkan seluruh civitas akademika Universitas itu.



Hal tersebut terungkap dalam status facebook pengamat teroris lulusan Universitas Indonesia, Al Chaidar menulis "Pemasangan logo baru Unimal yang tidak disetujui oleh Senat Universitas Malikussaleh" di Kantor Unimal Press.  Rabu, 23 Oktober 2014.



Disamping itu Al Chaidar bersama kawan-kawannya juga melasir foto-foto pemasangan logo baru versi pengamat teroris ini di kantor Unimal Press dengan Motto 'Quaerenti Vera Pietatem' (Pencarian Kebenaran untuk Keshalehan). (Baca: Rektorat Ubah Logo Universitas Malikussaleh)



"Logo terbaru Unimal sudah terpasang di Kantor Unimal Press. bagi yang ingin melihat logo pemberontak, datanglah ke kantor kami di Jalan Panglateh No. 10, Keude Aceh, Lhokseumawe" tulis dia distatus facebooknya.



[caption id="attachment_17803" align="aligncenter" width="699"]Shootscreen Logo baru Unimal versi Al Chaidar dkk Shootscreen Logo baru Unimal versi Al Chaidar dkk[/caption]

Kakak beradik buah hati Alm Abdurrahman, Al Chaidar, bersama abang kandungnya Apridar, Rektor Unimal saat ini berbeda opsi soal logo Unimal.



Menurut Al Chaidar, Logo yang disetujui Senat adalah logo fait a compli yang disetujui secara menipu anggota senat dengan menandatangani daftar hadir rapat yang sebenarnya tak pernah membahas logo dan statuta Unimal.



"Statuta Unimal juga konstitusi yang fait a compli, yang disahkan dengan cara cara yang sangat menipu" Kata Al Chaidar dalam status facebooknya.



[caption id="attachment_17800" align="aligncenter" width="700"]Shootscreen komentar facebook Al Chaidar tentang kontroversi logo Unimal Shootscreen komentar facebook Al Chaidar tentang kontroversi logo Unimal[/caption]

Sebelumnya, Rektorat Universitas Malikussaleh (Unimal) yang beralamat di Jalan Medan – Banda Aceh Cot Tgk Nie, Reuleut Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, kembali melempar isu perubahan logo institusinya.



Hal tersebut terlihat jelas dalam spanduk peringatan 69 tahun kemerdekaan Republik Indonesia bertuliskan “dirgahayu kemerdekaan republik Indonesia ke 69” yang ditempel di gedung rektorat, tepat didepan podium utama upacara. Minggu, 17 Agustus 2014, lalu.



Dedy Satria, salah satu dosen di Fisip Unimal, selesai upacara juga meng-upload photo (logo baru Unimal) di status BMnya.



[caption id="attachment_17806" align="aligncenter" width="700"]Screenshoot Logo baru Unimal versi Senat Screenshoot Logo baru Unimal versi Senat[/caption]

Meskipun wacana tersebut telah disebar sejak hari kemerdekaan, namun isu yang dilempar tidak begitu direspon oleh publik atau kalangan civitas akademika kampus itu, seakan tidak di-open sama sekali.



“nggak tau tu suka-suka mereka mau ngapain” kata salah satu calon Rektor Unimal tidak terpilih dalam pemilihan 24 Juni 2014, lalu.



[caption id="attachment_17808" align="alignleft" width="236"]Logo Unimal dalam Permendiknas Logo Unimal dalam Permendiknas[/caption]

Beberapa mahasiswa yang ditemui acehbaru.com mengatakan tidak tahu menahu terhadap perubahan logo, karena spanduk di yang ditempel dipanggung utama upacara didepan gedung rektorat telah ditutup rapi.



“ooo pantesan, tadi kita tidak liat, tadi ditutup rapi khusus dibagian logonya saja” Kata mahasiswa itu.



Firdaus Noezula Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Malikussaleh juga demikian, “saya belum tau itu, yang pasti itukan harus melewati tahapan dan proses, ada mekanismenya, tidak boleh lansung semena-mena” Katanya.



Sementara Marzuki ST, Herlin SH dan beberapa alumni lain dari kampus itu yang ditanyai acehbaru.com justru terkejut dan mengaku belum mengetahui hal tersebut.



Pembantu Rektor (Purek IV) Bidang Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan : Iskandar Zulkarnaen, SE.,M.Si yang kebetulan melewati spanduk wacana perubahan logo Unimal itu, mengatakan hal tersebut hanya sebatas wacana untuk melihat respon publik.



“itu hanya sebatas wacana kita ingin melihat bagaimana respon publik, kalau ditolak tidak dirobah dan kalau diterima ya tidak jadi dirubah” Katanya, Kamis, 21 Agustus 2014. |ISB|

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.