Header Ads

Rahasia Dibalik Kesuksesan PT Arun dan Rakyat yang 'Dipinggirkan'

acehbaru.com | Lhokseumawe - Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, dalam makalahnya yang berjudul "Arun dan Rakyat yang Terpinggirkan" menuliskan, bahwa pendapatan negara dari kilang LNG PT Arun sangat besar. Namun, hal tersebut tak sebanding dengan kondisi masyarakat sekitar Arun yang hidup dalam belenggu kemiskinan. (Baca: Kilas “Sukses” Implementasi CSR PT Arun NGL)



“Menurut kalkulasi, PT Arun sejak pengapalan pertama LNG pada 1978 sampai Oktober 2014, ini diperkirakan jumlahnya akan mencapai 4.270 pengapalan atau 531.449.714 m3, sementara kondensat sebanyak 1.891 pengapalan atau 761.514.914 barrel,” tulis Suaidi.



Di samping itu, kata dia, kilang LNG Arun juga menghasilkan elpiji yang berlangsung hingga akhir tahun 2000. Elpiji tersebut berupa propane 355 kargo atau 7.497.726 metrik ton (MT), butane 359 kargo atau 6.916.761 (MT).



“Bila kami perhatikan, bahwa harga jual LNG dikaitkan dengan harga minyak mentah (crude oil) yang terus naik dari tahun ke tahun, maka dapat dihitung pendapatan negara dari kilang LNG Arun tentu mencapai angka yang cukup besar,” jelas Suaidi.



Menurutnya, sebagai gambaran kasar menggunakan asumsi rata-rata harga aktual LNG bulan Mei 2014 untuk sales contract dengan Western Buyer sebesar US$17.5850 per mmbtu, rata-rata harga elpiji sebesar US$16.5 per mmbtu, dan rata-rata harga tertimbang kondensat sebesar US$106.546 per bbl.



“Maka, jika dihitung dengan harga yang dimaksud, PT Arun telah menelurkan uang sebesar US$313 milliar. Tentu, uang sebanyak itu sebagian besar masuk ke kas negara, di samping ke perusahaan-perusahan pemegang saham PT Arun, yakni Pertamina selaku wakil pemerintah Indonesia (55 persen), Mobil LNG Inc (30 persen) dan JILCO (15 persen). Sementara, ke pemerintah daerah menetes via pajak-pajak yang tidak seberapa,” tulisnya.



Dalam makalahnya itu, Suaidi juga menuturkan, berdasarkan informasi yang didapat, pengapalan LNG terakhir ke pembeli berlangsung pada 15 Oktober 2014. Sementara, ExxonMobil akan mengakhiri kontraknya di Aceh pada 2018.



Karena PT Arun hanya sebatas operator, seperti selalu didengungkan oleh direksinya lewat jargon no loss and no profit, maka meski kemegahan dan kemewahan terpancar dari proyek mercusuar PT Arun, secara signifikan tidak banyak dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.



“Beberapa program CSR dan Community Development lebih bersifat external driven (digedor dari luar) yang kemudian dijadikan semacam environment green certificate semata,” kata Suaidi.



Sementara Presiden Direktur PT Arun, Gusti Azis, menjelaskan, jumlah LNG yang dikapalkan per satu kapalnya sebanyak 125 ribu meter kubik. Jika diuangkan, Gusti mengatakan, harga LNG tersebut lebih dari US$40 juta per kapalnya.



“Satu kapal jumlahnya 125 ribu meter kubik, didolarkan sebesar 40 juta lebih dolar Amerika per kapal,” ujar Gusti, usai melepas kapal Hanjin Pyeong Taek yang mengangkut gas terakhir PT Arun dan dibawa ke Korea Selatan.



Menurutnya, jika dibandingkan dengan data akhir 2010, PT Arun telah mengolah, memproduksi dan mangapalkan LNG sebanyak 4.231 kapal atau setara dengan 235.445.987 ton.



Selain itu, Arun juga memproduksi kondensat sebanyak 1.868 kapal atau 756.244.179 barel dan elpiji mencapai 14.5 juta ton. Namun, produksi elpiji telah dihentikan pada Oktober tahun 2000 silam. |Viva|

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.