Header Ads

Pernikahan yang Dijual

Menyaksikan acara infotainment  tadi pagi sebelum sarapan, tampaknya  pernikahan pesohor Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sedang jadi trending topic di berbagai stasiun televisi. Konon penyelenggaraan akad nikah berikut pernak-perniknya tersebut akan menelan dana senilai lebih dari Rp 11 miliar.  Begitu fenomenal memang.



Wah. Istri saya langsung berdecak.  Alangkah mewahnya pernikahan presenter dan pesinetron tersebut. Lalu ketika saya jelaskan – sebagaimana dikabarkan media, bahwa sebagian besar dana pernikahan itu didapat dari sponsor, dan stasiun televisi yang memiliki hak siar  acara pernikahan mantan kekasih Yuni Shara itu, istri saya malah melempar komentar berikutnya.



“Wow, jadi pernikahan pun bisa dijual juga. Beruntung banget orang-orang setenar mereka, pernikahan yang demikian sakralpun dapat berubah jadi ajang bisnis pula tampaknya...”



Begitulah.



Gara-gara rencana pernikahan Raffi ahmad dengan Nagita Slavina juga, seorang gadis di kampung saya menuntut tunangannya bilamana nanti melangsungkan pernikahan supaya seperti pesohor tersebut.  Padahal keluarga dua sejoli itu hanyalah orang biasa saja.  Orang tua masing-masing kerjanya mengolah sawah dan ladang yang luasnya hanya beberapa petak belaka. Apalagi si perjaka baru belajar mencari duit, sebagai pelayan toko di kota kecamatan terdekat.



Maka para tetangga pun berkomentar. Terutama kaum perempuan yang sangat tajam pendengarannya, dan mulutnya gampang nyinyir mengkritisi sesuatu hal, di ajang obrolan  antar kaum sejenis.



“Kalau mau seperti Raffi Ahmad dan Nagita, ya sana ke Jakarta. Daptar dulu jadi artis, penyanyi atawa pemain sinetron. Cuma untuk itu paling tidak harus punya modal tampang dulu. Sedangkan ini, sudah saban hari dibakar matahari, wajahpun pas-pasan lagi...”



Mimpi jadi pesohor, bisa jadi merupakan impian para remaja di Indonesia belakangan ini. Gemerlap kehidupan dunia showbiz menjadi magnet kuat tampaknya. Fenomena itu dapat dilihat dari banyaknya remaja yang menjadikan para pesohor sebagai panutan. Bahkan tingkah laku panutannya tersebut ditiru habis-habisan. Termasuk juga dalam cara mereka berpakaian.



Di satu sisi ada segi positifnya memang. Industri penyiaran televisi berikut pernik yang mengikut di belakangnya, industri sandang, juga industri otomotif, dan industri lainnya yang kental dengan kehidupan dunia entertainment ikut terdongkrak. Berarti banyak yang menangguk untung, sekaligus pemasukan ke kas negara pun bertambah.



Bagi anak remaja dari golongan menengah ke atas, hal itu tak jadi persoalan tampaknya. Yang menyedihkan justru bilamana mereka yang berasal dari keluarga yang hidupnya pas-pasan – sebagaimana kehidupan rakyat di pedesaan.



Mimpi untuk hidup serba glamour hanyalah ada di angan-angan belaka. Dan bila hal tersebut sudah jadi obsesi, tidak menutup kemungkinan para remaja dari golongan ekonomi lemah tersebut untuk menggapai impiannya mencari jalan pintas.



Begitu banyak yang kita dengar, telah sering diberitakan remaja putri yang melacurkan diri, dan banyak pula remaja laki-laki yang terlibat dalam tindak pidana curanmor misalnya.



Pertanda apakah itu semua, kalau  bukan kesenjangan sosial yang semakin menganga lebar.



Tulisan ini diambil dari laman Indosiana TEMPO.CO|

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.