Header Ads

Inilah Pantai Ulee Rubek, Eksotis Nan Indah tapi Terlarang

Sebuah pantai yang memiliki ciri khas keindahan dan keasrian biasanya menjadi objek wisata favorit para turis. Berbagai panorama alam bisa dinikmati di sekitarnya. Diantaranya, pemandangan laut yang membiru, sejuknya angin yang menyapa, sesekali suara desis pepohonan rimbun yang berjejeran di tepi pantai membuat betah setiap raga yang menikamatinya. Tapi bagaimana kalau pantai itu terlarang? Inilah Ulee Rubek, pantai yang eksotis nan indah namun terlarang.



Pantai Ulee Rubek merupakan pantai yang eksotis. Berbagai macam keasrian dan pemandangan dapat rasakan di pantai ini. Terdapat nelayan bersama boat yang berlalu lalang menjelajahi isi laut sampai aneka hiasan yang tak terlupakan, seperti hamparan kerang putih, jejeran pohon pandan dan cemara, serta pemandangan sunset saat senja dijemput malam, mampu menyejukkan setiap jiwa yang gundah dan risau.



Belum lagi di sebelah barat pantai ini belum banyak diketahui khalayak, panorama matahari memerah yang merebahkan dirinya kala senja tiba itu terlihat bagaikan perlahan terperosok ke perut bumi saat dinikmati di tepi pantai. Suasana itu bertambah lengkap dengan adanya perahu nelayan yang terlihat kehitaman seperti menempel di dinding langit.



Para nelayan seperti sepakat dengan sunset untuk pulang dan kembali keesokan harinya. Adapun rimbunnya pohon pandan yang berjejeran berbisik kala angin laut berhembus. Bayangan sunset nampak pecah terpantul ke permukaan air laut yang bergelombang. Sesekali camar laut pun terbang rapi melintas.



Gadis-gadis kecil di tepi pantai menjajakan kerang hempasan ombak, adakala berlarian saling mengejar. Betapa tenang dan damai. Setidaknya demikian gambaran suasana saat –saat  malam menjemput siang di pantai Ulee Rubek.



Pada tahun 1990-an, pantai Ulee Rubek yang berada di Kec. Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara menjadi tempat wisata alam favorit warga kabupaten setempat dan sekitarnya. Apalagi kala hari minggu atau Rabu Abeh (Rabu di penghujung bulan safar) datang, pantai ini dipastikan sesak dengan para turis serta aneka pedagang dadakan yang berjualan.



Di era tahun 2000-an, pantai ini mulai dilarang sebagai objek wisata oleh para pemuka agama dan para tokoh setempat. Menurutnya,  keberadaan pantai Ulee Rubek sebagai objek wisata mengundang kemaksiatan yang dilakukan oleh para pengunjung. Rimbunnya sekumpulan pohon pandan di sekitar pantai ini  menjadi ladang mesum pasangan non-muhrim.



Ini jelas saja bertentangan dengan syari’at dan ini yang menjadi alasan objek wisata Pantai Ulee Rubek dinilai tak sesuai dengan budaya Islam. Aceh sebagai kawasan pertama Islam di Indonesia muncul yang juga dikenal dengan Serambi Mekah atau sarat dengan budaya Islami sudah selayaknya dijaga dari apa yang menyebabkan lunturnya nilai-nilai ajaran Islam. Apalagi saat ini syari’at Islam telah resmi berlaku di Aceh.



Sekretaris Kesatuan Mahsiswa dan Santri (KeMS) Seunuddon, Muhammad Ali  menjelaskan, pantai tersebut dilarang sebagai objek wisata dikarenakan tak ada yang mampu menjamin bahwa pengunjung tak akan melakukan kemaksiatan seperti mesum atau hal yang kontra dengan syrari’at. “Tak ada yang mampu menjamin bahwa di pantai ini tak ada yang mesum bila dijadikan objek wisata,” sebutnya.



Ditinjau di sisi lain, banyaknya para turis yang berdatangan ke tempat ini membuat ekonomi warga sekitar meningkat. Tersedianya lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, diantaranya masyarakat bisa berjualan dan menyediakan lahan parkiran. Selain itu, hasil tangkapan nelayan setempat juga menjadi daya tarik para turis yang nantinya akan membawa keuntungan tersendiri.



Saat gempa dan tsunami Aceh, 26 Desember 2004, pantai Ulee Rubek merupakan salah-satu wilayah di Aceh Utara terparah terkena musibah itu. Merenggut hingga ratusan nyawa disebebabkan usai gempa air laut mengalami surut jauh dari bibir pantai sehingga ikan-ikan pun nampak terkulai. Warga yang tinggal berdekatan dengan pantai itu pun menyerbu ikan tersebut.



Tak lama kemudian gelombang laut yang awalnya surut kembali datang, namun dengan ukuran yang besar atau disebut dengan tsunami. Gelombang ini meluluhlantakkan apa yang ada di hadapannya. Isak tangis manusia di pesisir laut Seunuddon itu pecah beriringan dengan gelombang tsunami dengan ketinggian sekira lima meter lebih memporak-porandakan rumah dan menyeret ganas penduduk setempat. Mayat bergelimpangan di mana-mana dengan berbagai macam posisi dan keadaan. Begitu menyedihkan.



Hal ini juga menjadi latar belakang mengapa pantai Ulee Rubek dikecam sebagai objek wisata. Menurut perspektif para pemuka agama, timbulnya gempa dan tsunami tersebut merupakan ulah manusia yang saban hari tak henti-hentinya melakukan kemaksiatan, termasuk di sepanjang pantai tersebut, sehingga Allah SWT menurunkan musibah yang menelan banyak korban jiwa dan harta benda.  Pantai Seunundon Ule Rubek-2



Salah seorang warga Seunuddon, Jamaluddin (24) mengatakan, beberapa tahun lalu para pemuka agama dengan muspika setempat pernah sepakat untuk menutup pantai Ulee Rubek sebagai objek wisata karena dinilai tak islami atau bertentangan dengan syari’at. Namun saat ini tidak jelas lagi bagaimana kesepakatan kerjasama tersebut.



Pada kenyataanya, meski dilarang, keindahan pantai Ulee Rubek masih saja digandrungi warga terlebih kaula muda tatkala akhir pekan tiba. Tentunya tak seramai dulu saat Rabu Abeh dulu yang mencapai ribuan pengunjung. Biasanya dipadati puluhan hingga seratusan pengunjung saja ketika hari  Minggu datang atau saat hari besar, seperti hari lebaran. | Muklis Azmi |

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.