Header Ads

Cowboy Minta Gubernur Perhatikan Mantan GAM

acehbaru.com | Bireuen- Ketua Lsm Banser Rakyat Aceh BRA Provinsi Aceh Efendi alias Cowboy, bersama  Eks mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Bireuen yang kini bernaung dibawah payung Lembaga Banser Rakyat Aceh BRA, minta Gubernur Aceh Zaini Abdullah untuk memperhatikan kesejahteraan  mantan petempur GAM.  Minggu 26 Oktober 2014



“Kami para eks mantan kombatan GAM akan menuntut hak kami kepada Gubernur Aceh sebagaimana sudah tercatum dalam MOU Helsinki," Ujar Cowboy dalam rilisnya yang dikirim ke redaksi.



Cowboy meminta rakyat untuk bersatu dalam menyelamatkan Aceh. Menurutnya  sudah 9 tahun lebih perdamaian antara RI dengan GAM, namun perdamaian tersebut belum dirasakan perubahan aspek ekonomi masyarakat.  " Ekonomi Rakyat  semakin hancur, rakyat semakin menderita, yang damai hanya kelompok tertentu,  sementara yang lainnya sengsara, " Tambah Cowboy dalam rilisnya.



Cowboy menyebutkan Aceh ini bukan milik kelompok, melainkan Aceh ini milik kita semua.  Puluhan tahun perang Aceh menyisakan anak yatim dan janda, serta hancur semua sektor kehidupan rakyat, yang ambil keuntungan dari perang tersebut adalah beberapa orang saja. Katanya, sebenarnya yang diharapkan masyarakat Aceh adalah  pemimpin sejati yang bisa mengayomi masyarakat susah.



Sebagaimana kita ketahui bahwa selama ini masyarakat Aceh pasca konflik GAM dan RI semua para korban konflik banyak yang belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. "Jika Zaini tidak sanggup menjadi pemimpin sejati yang tidak bisa melayani masyarakat dengan baik, lebih baik “mundur” saja, karena jabatan itu adalah amanah bukan tempat memperkaya diri, keluarga dan kelompok." Sebut Cowboy



Selain itu Cowboy juga mengajak Eks mantan kombatan GAM untuk bersatu kembali, demi untuk memperjuangkan hak-hak para mantan kombatan gam, seperti dalam butir-butir Mou Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 lalu. Seperti  mendapat lahan pertanian seluas dua hektar per orang, rumah layak huni, dan modal usaha. | IRA| RILIS| 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.