Header Ads

10 Tahun MoU, Perempuan Ini Sambung Hidup Dengan Menggali Pasir

acehbaru.com | Aceh Timur-- Harapan kesejahteraan setelah perdamaian sepertinya masih jauh dari harapan,  contoh kecil Nurazizah (39) warga Alue Bu Tuha Kecamatan Peureulak Barat Kabupaten Aceh Timur  fajar muncul di bagian timur di iringi dengan suara  burung  berkicau, Nurazizah (39)  berangkat  ke sungai untuk mengumpul demi membantu suaminya Rusli (46) untuk menyambung hidup keluarganya memiliki 7 Putra putrinya  .



Untuk membantu perekonomian keluarganya Nurazizah yang sedang hamil tua bergegas untuk melakukan aktifitas biasa sebagai penggali pasir. Saat melakukan pekerjaannya Nurazizah ditemani Wardaniah (41) yang juga warga desa Alue Bu Tuha, mereka melakukan Pekerjaannya  yang masih dalam kawasan yang tak jauh dari kediamannya.



Biarpun sedang mengandung Nurhazizah tetap tegar menekuni pekerjaan sebagai pengali pasir. Sungguh tak disangka kehidupan nurazizah ini menjadi Potret seorang ibu yang tegar menukuni pekerjaan sebagai pengali pasir, biarpun panghasilan pas pasan tapi ia bahagia dengan kehidupannya.



Menurut Nurazizah pekerjaan sebagai penggali pasir sudah selama menukuninya yaitu sudah sepuluh tahun silam, hal ini terpaksa  dilakukannya karena untuk mencukupi biaya anggaran rumah tangga.



Dalam sehari Nurazizah  hanya sanggup mengorek satu kubik itu pun kalau tidak sakit badannya maklum saja sedang hamil.  pasir yang di korek olehnya  di jual ke orang yang sedang membangun rumah di sekitarnya, biasanya pasir tersebut di jual dengan harga 35 ribu/kubik. Tanjakan bukit yang licin  seperti jurang   tidak di hiraukan oleh nya satu persatu Ember pasir yang sudah di saring di tepi  alur di naikan ke atas.



Bukit yang  berpapasan di pinggir jalan Alue Bu Tuha menuju ke Alue Bu Tunoeng , di situ lah nantinya para pembeli  pasir.   Rusli sang suami yang sehari- hari berkerja sebagai buruh di sebuah warung kopi  mengakui tidak sanggup  menafkahi kelurganya ,



"Sebenarnya saya tidak sanggup melihat istri saya harus ikut menanggung beban namun apa boleh buat saya sendiri tidak mampu untuk manafkahi keluarga apalagi anak kami yang ke dua sedang di pesantren," ujar Rusli dengan penuh penyesal.



Dari hasil penjualan pasir uang tersebut digunakan membeli kebutuhan dapur , dan tak jarang Nurazizah yang menanggung  jajan untuk anak-anaknya yang sekolah



Kekurangan biaya terpaksa nurazizah membantu suaminya dalam menafkahi keluarganya , tidak ada jalan lain selain banting tulang walaupun dengan kondisi hamil tua terpaksa di lakukan olehnya  untuk mengurangi beban yang di pikul sang suami.



Tidak ubah juga dengan nasib Wardaniah kawan seprofesinya Nurazizah  yang sehari-hari juga sebagai pekerja penggorek pasir di desa Alue Bu Tuha menurutnya pekerjaan yang di lakukannya sudah lebih dari sepuluh tahun, hal ini terpaksa di lakukannya demi menafkahi keluarga , sang suami yang sakit  terbaring di dalam tikar selama lima tahun lebih  membuatnya harus mananggung beban keluarga.



Hari berganti hari seiring dengan berjalannya  waktu Nurazizah dan Wardaniah tetap melakukan profesinya demi membantu dan  membiayai keluarganya , tidak tau kapan akan berakhir nasibnya sebagai penggorek pasir, hanya tuhanlah yang tau, Nurazizah dan Wardaniah adalah sebagian dari  potret kehidupan masyarakat Aceh  setelah 10 tahun perdamaian Aceh yang penuh harapan dan katanya juga melimpah akan hasil alam.



Wajar kah Pemerintah menutup mata, tegakah pengelola  pemerintah hanya menjadikan warganya sebagai pelengkap administrasi sebuah propinsi, kabupaten dan kecamatan, padahal semua pendapatan dan 'olah'-olah' yang didapatkan semuanya, toh  karena alasan lelah bekerja  melayani rakyat . |IRA|FIQ|

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.